<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872</id><updated>2011-04-22T01:27:40.159+07:00</updated><title type='text'>Sastra</title><subtitle type='html'>Blog ini berisi kumpulan sastra yang sebagian berasal dari karya pribadi sang penulis dan sebagian lainnya berasal dari karya penulis lain. Selamat membaca...Salam Cinta dan Rock'n Roll</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-6714090050747818505</id><published>2008-08-23T00:43:00.000+07:00</published><updated>2008-08-23T00:45:02.625+07:00</updated><title type='text'>Senyum dalam Lamunan</title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Untukmu”, dua lembar uang lima puluh ribuan itu diberikannya kepadaku. Aku terima uang itu tanpa banyak kata. Hanya ucapan terima kasih, itupun lirih kuucapkan. Sudah lama sekali aku tak pernah datang ke rumah ini. Rumah ayahku. Rumah keluarga barunya. Istri baru, anak-anak baru, suasana baru, kehidupan serba ba&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ru. Ah, betapa bahagianya ayahku saat ini. Semoga masa lalunya bisa terkubur pelan-pelan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku masih saja mematung dalam dudukku. Aku merasa asing. Dan memang, perasaan ini selalu saja hadir tiap kali aku datang ke rumah ini, seperti tahun lalu. Sekarang rumah ini sungguh berbeda. Banyak renovasi di sana-sini. Rumah ini tersulap menjadi rumah modern. Semakin nyaman dihuni. Sungguh berbeda dengan rumah warisan gono-gini yang kami tempati. Namun, tetap saja aku merasa asing. Asing di rumah ini. Asing dengan keluarga baru ayahku. Bahkan, asing dengan ayahku sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kau kemana saja tak pernah kelihatan?”, suara seorang perempuan berseloroh dari dalam kamar sambil melihat TV. Istri baru ayahku. Aku cukup terkaget. Lamunanku membuyar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lagi sibuk kerja”, jawabku singkat. Tidak ada dialog lagi. Suasana kembali hening. Seandainya keponakanku tidak sakit, tentu aku tak akan mau disuruh kakakku mengantar titipan ini. Kakakku tahu bahwa aku enggan ke rumah ini. Bertemu ayah, bertemu keluarga baru ayah. Kakakku mengiba dan aku tak bisa menolaknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku ingin cepat-cepat pulang. Aku sudah tidak mampu lagi berlama-lama di rumah ini. Aku sungguh tersiksa. Tersiksa dengan segala beban-beban dan dosa-dosa masa lalu. Entah kenapa setiap kali aku bertemu dengan ayahku di rumah ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, beban-beban dan dosa-dosa itu selalu saja muncul dalam anganku. Itulah salah satu sebab kenapa dari dulu – bahkan sekarang – aku tak pernah mau dekat dengan ayah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Amanah kakakku sudah aku sampaikan. Aku mencari-cari alasan untuk segera pulang. “Saya pamit, soalnya mau kerja. Masuk malam”, kataku berbohong. Ayah hanya diam tanpa banyak kata. Ia terus saja menatapku. Tak kutahu sedikitpun makna tatapan itu. Aku merasa dilema penuh kenaifan. Sungguh aku tak mampu berlama-lama lagi. Tanpa basa-basi lagi segera kuhidupkan motor lalu pergi meninggalkan rumah ini. Aku merasa lega. Namun, aku masih saja melamun...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Orang tua itu masih saja melamun dalam duduknya, di teras depan rumah, hampir saban sore men&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;jelang magrib. Kebetulan, akhir-akhir ini senja selalu tampak indah. Merona merah dan sesekali jingga. Kebetulan juga orang tua itu sangat senang menikmati senja. Sudah lama sekali keinginannya untuk kembali ke kampung dipendamnya. Hidup di kota tak lagi menawarkan kedamaian dan kenyamanan. Ia tak pernah merasakan ketenangan. Yang ada hanyalah memburu dan diburu. Ia ingin sekali ketika pensiun nanti kembali bertani. Mengelola beberapa petak sawah yang dimiliki. Sungguh, suatu hal yang telah lama sekali tak pernah ia lakukan semenjak ia bekerja sebagai PNS. Meluangkan waktu lebih banyak untuk keluarga. Tak lupa, banyak berserah diri pada sang Khalik, di ujung usianya kini yang semakin larut. Angannya semburat tentang masa lampau, kini, dan hari depan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Untuk keluarga? Keluarga yang mana? Ia mempunyai dua keluarga sekarang. Keluarga dengan empat orang anak dari pernikahan pertamanya yang kandas dan keluarga dengan dua orang anak dari pernikahan kedua. Ia bingung. Ingin rasanya berlaku adil buat semua. Tapi bukankah manusia tak pernah bisa adil. Ia hanya bisa berusaha untuk berbuat adil. Ah, ia terlalu lelah untuk berfikir. Ia terlalu tua untuk merubah. Biarlah semua berjalan atas kehendak sang Khalik. Satu hal yang paling ia inginkan saat ini, jangan sampai trauma masa lalu itu kembali berulang. Ia ingin hidup dalam keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Hingga kelak ajal mulai menjemput. Sebuah mimpi yang begitu indah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setiap malam pun ia tak pernah lelah untuk bertafakur memohon pada sang Khalik agar anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang berhasil. Berhasil dalam urusan dunia, berhasil pula dalam urusan akhirat. Dan hampir disetiap perenungannya, ia selalu bertanya, sudahkah ia menjadi sosok ayah yang baik bagi anak-anaknya? Benarkah selama ini ia terlalu egois memaksakan kehendaknya? Sebuah pertanyaan yang cukup mengusik. Ah, ia rasa ia tidak seperti itu. Tetapi bagaimana ia bisa menilai diri sendiri jika orang lain tak pernah berkata tentang dirinya? Apakah penilaian diri saja sudah cukup bijak dalam menilai tentang suatu hal?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku ingin anak-anakku tahu hikmah di balik ini semua?” benaknya berkata, “Bukankah selama ini aku juga memberikan mereka kebebasan dalam memilih? Aku cukup mengerti mereka ingin mandiri tanpa campur tanganku, tetapi aku ayahnya. Kenapa tak satu pun diantara mereka yang mau mengerti bahwa selama ini aku bergelut dengan kegelisahan-kegelisahan akan pilihan mereka. Setidaknya mereka mau berkata apa pilihan-pilihan itu. Agar aku cukup tenang.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku pun tidak pernah tahu kenapa &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;setiap kali berdekatan dengan ayah aku tak pernah bisa berkata apa-apa. Aku selalu merasakan seolah ada jarak, jarak yang begitu jauh. Memang, diantara saudara-suadaraku, hanya aku yang tak mampu menghadapi ayah. Aku selalu menghindar bila ayah berkunjung ke rumah kami. Paling kalaupun terpaksa bertatap muka aku sekedar basa-basi di depannya. Benar-benar terlihat bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hingga pernah suatu kali aku merasakan bahwa dia bukan ayahku dan aku bukanlah anaknya. Masing-masing adalah dirinya sendiri. Masing-masing adalah orang lain. Orang dengan pilihan-pilihan dan jalan hidup sendiri-sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kadangkala aku pun merasa benci kepada ayah. Dan di dalam kebencianku tadi, entah mengapa aku selalu menangis meratapinya. Sesekali pula ingin rasanya kutampar mukanya agar dia sadar bagaimana selama ini dia bersikap terhadap anaknya. Amarahku sudah memuncak!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Namun, sem&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ua itu tetap saja terbantahkan. Aku tetap anaknya dan dia adalah ayahku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dulu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ketika aku masih remaja, ada satu kenangan busuk yang tak bisa aku lupakan. Aku berangan bisa berbuka puasa bersama ayahku. Sampai kemudian dengan susah payah aku belajar memasak bali telur juga kolak pisang untuk hidangan berbuka. Aku berharap dia berbuka denganku lalu shalat magrib dan tarawih berjamaah. Di saat-saat seperti itu kunantikan sebuah sungging senyum di bibirnya dan berkata,”Kau memang hebat.” Namun sungguh sayang, dia lebih memilih untuk berbuka di rumah istrinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;O, bila aku mengingatnya, aku benar-benar tolol waktu itu. Barangkali aku terlalu banyak menonton kisah-kisah dramatis penuh kebodohan ala sinetron. Dan tentu saja, kebahagian tak pernah selalu berpihak pada tokoh yang menderita. Kemudian aku baru sadar, ternyata tuhan pun suka bercanda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apa gunanya pula ia harus marah-marah agar anaknya mengikuti kemauannya, toh mereka semua sudah dewasa. Sudah mampu berfikir dan menentukan pilihan mereka masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dan diantara keempat anaknya itu, hanya si ragil yang masih menjadi buah pikirannya. Dialah yang banyak mewarisi sifat-sifat ibunya. Dari malapetaka perceraian itu, ia tahu, anaknya yang terakhir itulah yang merasa paling terpukul dibanding kakak-kakaknya. Ia sudah lama sadar, bahwa kelak si ragil akan menjadi sosok yang lain. Sosok perasa, sosok pemberang, juga sosok pemaaf.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ah, di usianya yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;semakin tua ini, ia ingin berdamai dengan keadaan. Ia ingin hidup dalam keharmonisan. Biarlah semua berjalan apa adanya. Tentu Tuhan punya maksud tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dan orang tua itu sungguh bahagia saat &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ini. Kedatangan si ragil begitu mengobati kerinduannya. Kerinduan yang begitu lama terpendam. Rasanya kegelisahan-kegelisahan dalam benak hilang sudah. Barangkali ia tak perlu lagi merasa takut dengan pilihan-pilihan anaknya. Karena ia semakin yakin, yakin dengan sepenuh hati dengan pilihan mereka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;aman begitu cepat beralih. Dan orang tua itu semakin tahu, benar kiranya bila setiap jaman akan melahirkan anak jaman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ia &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;terhentak, bangun dari lamunannya sedari tadi, ada sesuatu yang terlupakan, “Oiya, bagaimana kabar cucuku sekarang? Aku akan menelponnya.” Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Senyum kebahagiaan yang jarang diketahui oleh anak-anaknya...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku masih saja terdiam dan hanyut dalam lamunanku. Aku masih mengingat uang pemberian ayahku tadi. Bukan soal jumlah yang diberikan, tetapi perhatiannya yang saat ini menyita pikiranku. Hal inilah yang membuat aku dilema. Di satu sisi aku begitu marah dan tak begitu peduli. Di sisi lain aku tak kuasa menampik perhatiannya. Karena jujur aku masih butuh perhatiannya. Kadangkala aku pun begitu merindukan kasih sayangnya. Ah, ayah memang tak bisa ditebak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Barangkali selama ini aku memang terlalu merasa hebat. Barangkali juga dosa-dosa masa lalu yang membuatku terlalu berpikir picik terhadap ayah. Sepertinya aku harus lebih dewasa menilai sesuatu. Aku harus belajar untuk memaafkan dosa-dosa itu. Bukankah selama ini aku juga banyak berdosa pada ayah? Ourgh,...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Entah mengapa tiba-tiba saja aku tersenyum. Tersenyum mengingat segala keceriaan-keceriaan yang pernah aku alami bersama ayah. Itulah saat-aat terakhir aku lihat ayah tersenyum. Rasanya lama sekali. Sangat lama. Aku masih terus melamun...   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Kampung Jambu,   Agustus 2008 &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-6714090050747818505?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/6714090050747818505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=6714090050747818505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6714090050747818505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6714090050747818505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/08/senyum-dalam-lamunan.html' title='Senyum dalam Lamunan'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-8400273721349455578</id><published>2008-08-23T00:28:00.000+07:00</published><updated>2008-08-23T00:29:08.432+07:00</updated><title type='text'>Katup Mata Mak </title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kali ini kuberanikan untuk menatap mata Mak dalam-dalam. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya seumur hidupku. Sungguh aku merasa tanpa daya melihatnya. Sampai hari ini aku belum sanggup membuat Mak bahagia. Maafkan aku Mak, aku berjanji suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakanmu. Aku menangis dalam hati. Mak pun akhirnya tertidur...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku mulai tenang melihat Mak tidur. Paling tidak bebanku berkurang. Dan sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah yang tak kunjung ada jalan keluar dia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi kerasnya hidup membuat Mak harus bertahan. Semua harus dihadapi. Semua harus dijalani. Mak terus tegar. Mak selalu sabar. Itu yang aku bangga dari Mak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kulangkahkan kakiku pelan keluar rumah. Malam ini dingin luar biasa. Di atas bulan tampak bulat sebulat-bulatnya dengan sinar peraknya yang begitu terang menerangi. Menyenangkan untuk dinikmati. Kusempatkan menengok gubuk tempat tinggal kami. Aku berpikir sejenak, kapan aku bisa membuatkan rumah gedung buat Mak? Rumah yang lebih nyaman untuk dihuni. Tidak bocor saat hujan. Tidak lembab bau lumpur. Tampak bagus dan kokoh. Paling tidak seperti rumah kang Naryo. Memang diantara anak-anak Mak, hanya kang Naryo yang bernasib mujur dan sukses. Hidup di kota dan menjadi pegawai bank. Punya istri cantik dan anak yang sehat pula.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Selama ini kepada kang Naryolah Mak selalu meminta bantuan. Apalagi kalau Mak sudah tidak punya uang atau sedang jatuh tempo bayar hutang ke bank &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;plecit&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Sedang waktu panen masih lama dan sisa panen sudah habis terjual untuk biaya tanam dan makan sehari-hari, juga bayar hutang sana-sini. Seperti saat ini. Mulanya kang Naryo tak berkeberatan. Namun, lama-kelamaan ada nada kurang menyenangkan dari kang Naryo. Walaupun Mak tak memintanya terus-menerus, hanya tempo-tempo tertentu saja saat Mak sedang terdesak, itupun bisa di hitung dengan jari. Mak memaklumi sikap kang Naryo. Dia sudah berkeluarga dan hidup di kota. Tentu kebutuhannya banyak. Mak tak mau merepotkan. Mak kini jarang meminta bantuannya lagi. Dan aku, aku semakin malu kepada Mak. Aku merasa sungguh tak berguna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Kamu tak perlu berkecil hati, Nang” kata Mak suatu hari padaku, “Mak yakin kelak kau pasti menjadi orang yang sukses. Bahkan lebih sukses dari kangmasmu semua”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Aku paling senang kalau Mak sudah berkata seperti ini. Di tengah keterpurukan kami, Mak tak lelahnya memberi semangat dan mendoakanku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Almarhum bapakmu berpesan kepada Mak agar kita terus berusaha dan tak lupa berdoa. Kita memang miskin, tapi jangan sampai miskin iman dan miskin hati.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku hanya bisa diam mendengar nasehat Mak. “Lanang pasti menjadi orang sukses, Mak. Besok kalau Lanang sudah sukses, Mak ikut Lanang saja.&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Lanang yang akan merawat Mak. Kalau perlu Lanang tidak akan menikah. Lanang hanya ingin membahagiakan Mak. Lanang tidak keberatan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Husshh...jangan bilang seperti itu! Nanti kau bisa termakan omonganmu sendiri. Mak ingin anak-anak Mak berkeluarga, beranak-pinak agar lengkap kebahagiaan Mak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tapi Lanang takut kelak seperti kang Naryo. Tak peduli sama penderitaan Mak. Membiarkan Mak terlunta-lunta. Tak pernah tahu kalau kita di sini kesusahan!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sifat orang itu berbeda-beda. Mak yakin kelak kau tidak akan seperti kangmasmu. Semua kembali ke dirimu sendiri. Kalaupun besok tak ada yang peduli sama Mak, Mak harus ikhlas menerimanya” Mak menunduk. Pundaknya bergoyah. Kudengar isaknya. Mak menangis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jangan bilang seperti itu, Mak! Terkutuklah semua anak Mak kalau sampai  menelantarkan Mak!” tanpa kusadari dengan perlahan air mataku menetes. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Rasanya&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; cukup sudah aku bersabar dengan keadaan. Kesabaran kami ternyata tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Sebaliknya, hidup terasa semakin susah saja. Aku ingin hidup kami lebih baik. Aku tak mau lagi melihat Mak sedih. Aku ingin merantau. Aku ingin menjadi TKI. Tak butuh waktu yang lama buatku untuk meyakinkan Mak. Hingga Mak akhirnya mengijinkan aku untuk menjual sebagian sawah yang terletak di sebelah selatan dukuh kami. Lagi pula sawah ini letaknya agak menjorok ke tengah. Tak sayang seandainya dijual buat modal kerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mak doakan semoga kau cepat berangkat. Kelak bila kau berhasil, jangan lupa kau bantu kangmasmu Gono dan Jiwo yang masih kesusahan. Kau kasih mereka modal usaha. Biar sukses seperti Naryo” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tidak, Mak. Lanang kerja untuk Mak saja. Itu yang paling utama. Bayar hutang-hutang kita, membuat rumah gedung yang lebih bagus dari punyanya kang Naryo, beli sawah, beli motor, dan ongkos naik haji Mak”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mak menatapku nanar. Kulihat sejenak. Ada rasa haru dan bangga yang terpancar di matanya. Mak hanya tersenyum sambil berlalu. Ada rasa senang yang tak bisa kuungkap ketika melihat Mak tersenyum bangga padaku. Kuperoleh rasa percaya diriku kembali. Aku semakin yakin, aku mampu membahagiakan Mak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tiap malam aku selalu berangan tentang segala mimpi-mimpi buat Mak. Kerja keras, gaji besar, tiap bulan bisa berkirim uang ke Mak, membuat rumah yang berlantai keramik, Mak tak perlu lagi berhutang untuk biaya tanam, Mak bisa belanja setiap hari ke pasar, dan yang utama aku ingin menemani Mak naik haji. Mak pasti senang. Tak ada lagi kesedihan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Namun, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;terpaksa aku harus mengubur semua mimpi itu ketika aku tahu ternyata aku tertipu calo. Semua modal ludes tak bersisa. Aku tak jadi berangkat. Anganku untuk menjadi TKI gagal. Semua mimpiku untuk Mak hilang. Aku menjadi bulan-bulanan saudaraku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Tolol! Makanya jangan gegabah!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Kok bisa ketipu? Dasar goblok”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Coba dari dulu kau dengarkan aku. Tak akan begini jadinya”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Sawah Mak harus kau ganti. Kau harus tanggung jawab!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Cengoh.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;..!“&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku tak kuasa mendengar olok-olokan itu. Mereka yang dulu berharap banyak dariku, sudah berani melontarkan permintaannya ini-itu&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; bahkan sebelum aku berangkat, bermuka manis ketika mendengar aku akan kerja ke luar negeri, kini mencampakkan kegagalanku. Terus saja menyalahkan. Aku hanya diam mendengar dan melihat perlakuan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kepada Mak aku tak bisa berbuat apa-apa. Berkali-kali aku minta maaf kepada Mak. Mak hanya terdiam tenang, kadang tersenyum, dan menyuruhku sabar. “Barangkali ini belum rejekimu, Nang”. Aku tahu Mak sangat sedih. Aku bisa lihat dari sorot matanya. Dari raut muka yang dibuat seolah-olah tegar. Mak pasti kecewa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mak tertidur. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah yang tak kunjung ada jalan keluar dia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku tidak bisa tenang. Apalagi tadi tukang tagih datang. Hutang Mak sudah menunggak. Aku bingung harus mencari uang kemana. Meminjam ke kang Naryo, sudah pasti tak akan dikasih. Satu-satunya jalan adalah menjual sepeda &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;onthel&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; warisan bapak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Akhirnya hutang terbayar walaupun harus mencicil. Mak pasti marah aku menjual sepeda &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;onthel&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; warisan itu. Tapi apa mau dikata, tak ada lagi sisa uang. Dan benar kiranya firasatku, Mak seharian diam tanpa mengajakku bicara. Aku merasa semakin berdosa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tiba-tiba saja aku teringat bapak. Dulu kehidupan kami lebih baik dari sekarang. Rasanya rejeki selalu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;ajeg&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Barangkali juga karena aku masih remaja waktu itu. Jadi tak pernah kutahu bagaimana kerja keras yang dilakukan bapak. Yang aku tahu, aku bisa terus sekolah, bahkan sampai tamat SMU. Kalau bapak sedang tak punya uang, kami tetap bisa makan enak walaupun hanya nasi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;ampok&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;(nasi jagung) dengan urap-urap daun pepaya yang pedas dan ikan asin. Sungguh enak luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mengingat bapak adalah mengingat semangat dan kerja keras yang tak pernah lelah. Mengingat bapak membuatku merasa tertampar: Aku harus bangun! Rasanya percuma saja kalau aku terus-menerus meratapi keadaan kami. Sampai akhirnya aku putuskan untuk pergi dari kampung ini. Meninggalkan Mak seorang diri. Aku berpamitan dengan Mak dan meminta doa restunya. Mak hanya bisa menangis melihat kepergianku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;"Lanang pergi, Mak. Assalamu’alaikum...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Wa’alaikumussalam.. kamu hati-hati, Nang. Jaga diri baik-baik.” Mak masih terisak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Itulah terakhir kali aku melihat Mak menangis. Aku pergi untuk sejemput mimpi yang kelak kuberikan kepada Mak. Mimpi-mimpi lamaku yang pernah hancur terporak-poranda. Memungut lagi satu demi satu dan merangkainya kembali dengan usaha, doa, dan kerja. Sekali lagi aku ingin membahagiakan Mak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dan sekarang, kali kedua kuberanikan diri untuk menatap mata Mak dalam-dalam. Hal yang telah lama tak pernah kulakukan semenjak pergi meninggalkan Mak sendiri. Katup matanya semakin cekung Sungguh aku merasa tanpa daya melihatnya. Sampai hari ini aku belum sanggup membuat Mak bahagia. Bahkan, ketika aku sudah menjadi orang yang berhasil. Lebih sukses dari kangmasku semua. Mak tak sempat menikmati mimpi yang telah lama kurangkai untuknya. Maafkan aku Mak. Aku menangis dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mak terus saja terbaring di tempat tidurnya. Belum ada tanda-tanda membaik. Aku masih saja duduk di samping Mak. Kupanjat segala doa-doa untuk keselamatan Mak. Hingga akhirnya Mak tersadar. Katup matanya yang cekung sedikit terbuka. Aku sungguh senang melihat Mak siuman. Mak tersenyum melihatku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Nang,” suaranya lirih kudengar, “kapan kamu datang?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kemaren Mak” jawabku riang. “Lanang sudah jadi orang sukses, Mak. Mak cepat sembuh biar nanti Mak bisa tinggal dengan Lanang. Lanang sudah punya rumah gedung buat tempat tinggal kita. Lebih bagus dari kang Naryo.” Mak hanya tersenyum sembari mengelus pipiku. “Kau bantu kangmasmu Gono dan Jiwo. Kau kasih mereka modal usaha. Biar sukses seperti kamu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Mak memang selamanya Mak. Ia lebih perhatian kepada anak-anaknya ketimbang dirinya sendiri, bahkan pada saat-saat seperti ini. Ah, Mak...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mak senang bisa melihatmu lagi” suaranya masih saja lirih. “Mak lelah, Mak ingin istirahat”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku tatap sekali lagi katup mata Mak yang semakin cekung. Kerutan di wajahnya yang begitu tegas membuatku selalu teringat betapa Mak sungguh tegar dan sabar. Aku bangga kepada Mak. Dan sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah atau kadangkala lelah ia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan dan keletihan. Namun, kali ini lain, mak tertidur untuk selamanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="right" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Kampung Jambu,  Agustus 2008 &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-8400273721349455578?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/8400273721349455578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=8400273721349455578' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/8400273721349455578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/8400273721349455578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/08/katup-mata-mak.html' title='Katup Mata Mak '/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-6213064421140718414</id><published>2008-08-23T00:05:00.001+07:00</published><updated>2008-08-23T00:08:54.474+07:00</updated><title type='text'>Seorang Penipu yang Menipu dan Orang-Orang Tertipu </title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Tolonglah saya. Saya sangat butuh pertolongan sudara.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; Hanya sudara yang mampu menolong saya.  Malam ini saya tunggu di kedai kopi yang biasa sudara satroni tiap malam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Pesan singkat yang baru saja masuk ke handphone-ku tadi sedikit mengusik. Tak jelas siapa nama pengirimnya dan dari mana dia tahu nomorku. Bisa dipastikan orang-orang di kedai yang memberinya. Namun, kenapa dia sangat butuh pertolonganku? Kenapa dia yakin hanya aku yang mampu menolongnya? Ah, ada apa lagi ini...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hampir tiap malam selalu kuluangkan waktuku untuk minum kopi di kedai ini. Kedai yang letaknya&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; di pojok perempatan pasar kota. Selain rasa kopinya yang pas di lidahku, ada hal lain yang membuatku terpikat dengan kedai ini. Tak lain adalah cerita para pengunjung kedai. Orang-orang yang datang selalu membawa cerita mereka masing-masing. Tak heran kalau kedai ini tidak pernah kehabisan cerita saban malamnya. Mereka selalu bercerita dengan bebasnya. Membuat mereka yang sebelumnya tidak mengenal atau dikenal saling berkenal satu sama lain. Akhirnya, kedai ini menjadi tempat curahan cerita-cerita mereka melepaskan segala masygul, gelak tawa, dan beban-beban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Anehnya lagi para pengunjung itu selalu senang tiap kali aku datang ke kedai ini. Bahkan mereka rasa kurang khidmat cerita mereka jika aku tak datang mendengarnya. Memang, tiap kali selesai mendengar cerita mereka, aku selalu menyempatkan untuk menuliskannya. Biasanya cerita-cerita itu aku kirimkan ke koran-koran lokal. Mereka senang bukan main bila salah satu cerita dari mereka yang aku tulis muncul di koran tiap minggu. Jangan heran kalau dinding-dinding kedai ini banyak tertempel potongan koran yang berisi cerita para pengunjung kedai. Itu sebabnya kehadiranku selalu dinantikan. Mereka yang berharap cerita-ceritanya aku tulis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Malam ini aku ke kedai lebih awal. Masih terlihat lengang. Hanya ada beberapa orang. Aku menyapa mereka. Di pojok kedai itu seseorang mengang kat tangannya memberi isyarat. Orang itu berbadan besar berambut panjang dengan pakaiannya serba hitam. Tampak lusuh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sayalah yang mengirim pesan ke sudara”. Aku hanya tersenyum dan menjabat tangannya.”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku. “Tolong tulis dan sebarkan cerita saya”.  Aku sempat tertegun, namun tak kuasa untuk menolaknya, “Jadi untuk itu anda mengirim pesan ke saya?” ia mengangguk pelan. Lantas lelaki yang tak jelas kutahu asal-usulnya itu mulai bercerita. Cerita tentang tipu-muslihat. Seorang penipu yang menipu dan orang-orang tertipu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ntah siapa dan dari mana asalnya perempuan tua itu tak ada yang tahu pasti. Orang sekedar tahu namanya Lastri Ayu Diahningrum. Ia baru saja menikah. Dan ia cukup beruntung bersuami masih muda. Umur mereka selisih delapan belas tahun. Apa mau dikata kalau uang sudah bicara? Sampai akhirnya banyak orang yang menganggap perempuan tua itu bak dewi penolong yang datang dengan segudang rahmat tuhan. Ia baru saja pulang dari luar negeri. Membawa kabar yang tentunya sangat membahagiakan. Ia pulang untuk mencari rekan yang mau ikut bekerja di luar negeri. Gayung pun mulai bersambut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Sebenarnya keinginan utamanya cuma satu, ia ingin membuat rumah sendiri. Sejak pernikahannya dengan Tri selama ini pula ia masih tinggal bersama orang tua dan menantunya. Perasaan malu sebagai lelaki itulah yang mendorong niatnya untuk menjadi TKI. Pikirnya, Indonesia sudah tidak mampu lagi memberikan harapan yang pasti tentang hidup. Pekerjaan sangat sulit didapat. Ingin membuka usahapun harus mempunyai modal yang sangat besar. Sedang harta yang dipunya tak seberapa nilainya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Memang, begitu banyak koperasi-koperasi yang memberi kredit usaha kepada mereka yang ingin mencari modal usaha dengan beberapa syarat yang telah ditentukan, tetapi setelah dipikir-pikir ia merasa tidak mampu dengan bunga yang harus dibayar. Lagi pula belum tentu penghasilannya tiap bulan mampu mencukupi untuk membayar angsuran kreditnya. Menjadi petani, laba pun tak tentu, selalu dikalahkan oleh harga panen yang turun dan biaya produksi yang tinggi. Sangat tidak seimbang dengan kebutuhan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Bagaimana urusan paspornya, mas?” tanya Tri sambil menyiapkan makan siang suaminya yang baru pulang dari kantor imigrasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Alhamdulillah lancar, Tri” jawab Gito dengan raut ceria. “Ini tadi cuma tinggal tanda tangan. Besok sudah bisa diambil.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sungguh girang&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; hati Tri mendengar kabar itu dari suaminya. Dan sekali lagi angannya mulai melambung tanpa arah. Mencoba menatap masa depan yang akan datang dengan gemilang. Terbayang beberapa rencana-rencana yang sudah ia susun sebelumnya. Membangun rumah gedung, berlantai keramik, dapur yang tampak menawan, perlengkapan rumah tangga yang serba komplit, tempat tidur springbed yang empuk, tak lupa sepetak sawah dan beberapa ekor sapi brahman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kamu kenapa senyum-senyum, Tri? Mimpi apa lagi kamu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Ah, sampeyan ini, tidak bisa lihat istri senang. Bayangkan kalau sampeyan sudah berangkat, kerja tiga tahun di sana? Hidup kita bisa lebih baik, mas.” Tri masih saja girang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Iya, iya, belum berangkat saja kamu sudah &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mesam-mesem&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, apalagi kalau aku sudah berangkat? Tapi, Tri...” tiba-tiba Gito tersendat, ada nada khawatir dalam benaknya,”kalau aku &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;gak&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; jadi berangkat &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;gimana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Huussh...sampeyan jangan ngomong seperti itu! Kemaren aku sudah tanya orang pintar, dia punya firasat katanya sampeyan pasti berangkat. Dia ngasih syarat ini untuk sampeyan minum. Katanya biar lancar usaha kita, mas!” Gito pun meneguknya sampai habis tak bersisa. Ia semakin jumawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Perkenalan Lastri dengan Gun cukup singkat. Gun mengenal Lastri dari seorang teman perempuannya yang kini sudah bekerja di Hongkong. Alangkah senang hati Gun mendengar tawaran Lastri. Bekerja keluar negeri menjadi TKI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kau ajak pula &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;sanak famili atau teman dekatmu, Gun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Itung-itung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; kita beramal. Ini kesempatan bagus &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Lagi pula saya masih butuh banyak rekan. Kemaren banyak yang pulang karena kontrak kerja mereka habis dan tidak diperpanjang lagi.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Iya, bu. Saya pasti tawarkan ini ke saudara dan teman-teman saya. mereka pasti banyak yang minat” Lastri pun tersenyum pulas. Gun tidak tahu apakah itu senyum ketulusan atau senyum penuh kelicikan. Gun terlalu sibuk berangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Wes to&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, nanti aku kasih persenan dari tiap orang yang kamu ajak, Gun” Lastri semakin membuai. Gun bertambah mabuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;i sebuah warung kopi dua orang pemuda sedang duduk berbincang sambil menikmati dua cangkir kopi kental pahit dan beberapa goreng pisang. Pemuda yang satu berbadan besar sedikit gemuk, dan yang satu lagi sedang saja. Mereka sama-sama mempunyai mimpi besar. Beratnya beban hidup yang harus dihada pi mengantar mereka pada pilihan untuk merantu ke negeri seberang. Banyak cerita keberuntungan dari mulut orang-orang kampung yang sanak sudaranya merantau di sana. Dari pada hidup penuh ketidakpastian di  kampung  sendiri kiranya ini menjadi pilihan yang terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Coba kau bayangkan, dengan gaji 13 juta per bulan atau tarohlah minim 9 juta, kita bisa buka usaha apa saja. Kita bisa beli apa yang kita mau. Itu baru sebulan. Nah, kalau kita kerja 3 tahun? Bisa kau hitung sendiri.” Pemuda berbadan besar sedikit gemuk itu tampak bersemangat dan meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku kira memang seperti itu. Toh, kalau kita bertahan di sini, seandainya kita dapat kerja pun gajinya tidak sebanding dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;rekoso&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; yang kita lakukan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ya, begitulah” ia mengangguk pelan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tapi, pernah tidak kamu merasa, kadang apa yang kita lihat nyata hari ini ternyata hanya sebuah dusta belaka?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Optimis saja. Kemaren aku barusan dari Kyai. Dia bilang, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;padang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tak ada halangan. Artinya kita pasti berangkat. Kemaren mas Gito, mbak War, mas Bambang, Wito, Lukman juga tanya sama orang pintar. Jawabannya sama: kita berangkat! Walaupun...”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ada beberapa yang bilang kita gagal berangkat. Ah,...”   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Mas Gun melarikan diri, sudah seminggu ini. Bagaimana sekarang?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Mendengar berita itu seketika raut muka Gito menjadi pasi. Ia hanya terdiam sambil tersenyum kecut. Pikirnya melayang tanpa arah, berusaha tetap tenang dan menguasai emosi dalam diri. Mencoba menganalisa apa gerangan yang baru didengarnya itu memang benar adanya. Ia tidak percaya Gun akan berbuat setega itu. Ini tidak mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Aku sudah mengenalnya sejak dulu. Aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa sekeji ini. Seandainya itu memang benar, ia tidak hanya menipuku dan semua orang, tetapi telah merusak persaudaraan ini. Bajingan tengik! gerutu Gito dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Ia tetap terdiam. Berpikir tenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Bagaimana dengan Lastri?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Sama. Tak ada yang tahu rimbanya...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;Malam semakin beranjak dan satu persatu orang-orang mulai datang ke kedai ini. Sepertinya malam ini akan terasa panjang. Aku sudah bersiap diri untuk mendengar cerita-cerita mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitulah cerita saya sudara”, lelaki di hadapanku itu tampak mau mengakhiri ceritanya, “tolong tulis dan sebarkan cerita saya tadi agar kelak tidak banyak orang yang bernasib serupa. Terima kasih banyak sebelumnya”. Lelaki itu segera menghabiskan sisa kopi di cangkir yang sudah dingin. Sambil menyulut rokok, ia berdiri bergegas pergi meninggalkanku.“Oiya, saya belum tahu nama anda!” seruku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Nama saya...,Gun” lelaki itu tersenyum &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ke arahku sambil terus pergi berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Pare, 18 Agustus 2008 &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-6213064421140718414?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/6213064421140718414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=6213064421140718414' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6213064421140718414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6213064421140718414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/08/seorang-penipu-yang-menipu-dan-orang.html' title='Seorang Penipu yang Menipu dan Orang-Orang Tertipu '/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-1811149590816406593</id><published>2008-08-16T22:35:00.001+07:00</published><updated>2008-08-16T22:38:05.260+07:00</updated><title type='text'>Hari Bahagia Buat Mak Mar </title><content type='html'>   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P.sdendnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; margin-bottom: 0cm; font-size: 10pt } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A.sdendnoteanc { font-size: 57% } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sudah tiga puluh lima tahun lebih rumah itu masih terlihat sama. Sebuah rumah yang sangat sederhana yang – bisa dikatakan mirip gubuk reot – kokohnya luar biasa. Padahal pondasi rumah itu hanya tersusun dari batu bata berperekat tanah liat bukan semen. Dinding rumah sama sekali tidak bertembok seperti rumah-rumah gedung milik tetangga di samping kiri-kanan. Melainkan terbuat dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;gedhek.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Tak sedikit pun terlihat adanya rombakan total dari rumah itu, hanya saja bagian-bagian kecil yang selalu dibenahi, seperti genteng yang telah aus dimakan cuaca, dan jika musim penghujan tiba seisi rumah disibukkan mencari bak atau ember penadah air hujan karena genteng yang bocor di sana-sini. Bukannya tidak mau atau tidak ada niat untuk merombaknya, tetapi apa daya jika uang tidak ada. Bisa makan sehari-hari dan menyekolahkan anak-anaknya saja sudah bersyukur. Cuma setahun sekali diwaktu lebaran tiba rumah itu tampak cerah berbinar dan tersenyum ramah pada siapa saja yang datang bersilaturrahmi. Sapuan putih kapur gamping membuat rumah itu tampak muda lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Wanita itu akrab disapa Mak Mar dan suaminya yang renta bernama Pak Kasim. Mereka bukan petani, bukan pula buruh tani. Pekerjaannya cuma membuat emping dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;puli&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdendnoteanc" name="sdendnote1anc" href="#sdendnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;i&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dari situlah ia mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka tidak punya sawah untuk digarap. Hanya kebun warisan  belakang rumah yang tidak begitu luas, tetapi cukup bermanfaat untuk menambah penghasilan, yang ditanami pohon pisang, ketela, bentol, melinjo, pohon kelapa dan beberapa pepohonan penghasil kayu. Selain itu, mereka juga mempunyai ternak yang dipelihara. Dulu ternak yang dimiliki tidak sekedar ayam dan kambing, melainkan juga sapi. Tetapi, semua sapi-sapi itu telah habis terjual untuk biaya kelahiran anaknya yang ke enam dan ke tujuh. Sungguh betapa bahagianya mak Mar waktu itu ketika ia melahirkan anak terakhirnya dengan selamat, dan segera sang suami menggendong si jabang bayi yang baru lahir itu, lalu mengumandangkan adzan di sampingnya. Kini, ternak yang tersisa hanya lah beberapa ekor kambing dan ayam kampung serta burung dara yang masih dipelihara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Di kebun belakang rumah itulah, di bawah pohon wadang yang rimbun, ia selalu tersenyum melihat anaknya bermain dengan penuh keceriaan. Tenggelam dalam riuh tawa jenaka yang mereka mengerti sendiri sambil membuat bola-bola kecil dari kulit ari daun wadang yang masih muda. Seperti yang ia ajarkan pada mereka. Hanya hiburan seperti itu yang bisa ia berikan sewaktu mereka masih kecil dan mengajari mereka beberapa permainan tradisional warisan turun-temurun dari nenek moyang dan orang tuanya dulu ketika memomongnya. Dengan jemari kecilnya yang lentik anaknya tangkas mengelupas dan memilin kulit ari daun wadang tersebut. Membuatnya bulat menjadi bola. Butuh ketelatenan dan kesabaran yang penuh untuk menghasilkan bola-bola kulit ari daun yang besar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Di setiap sore menjelang senja dimana langit berwarna jingga cerah di ufuk barat dan sebentar lagi maghrib tiba, ia selalu mengajari anak-anaknya bersenandung kidung pujian sholawat dan salam pada sang Rasul serta doa-doa pendek yang diucapkan pada waktu sholat. Kelak ia berharap semua anaknya akan menjadi seorang anak yang saleh dan selalu berbakti kepada orang tua. Sebuah doa dan harapan yang umum terucap oleh mereka para orang tua manapun kepada sang anak. Itulah sepenggal kenangan tentang masa kecil anak-anaknya yang tetap teringat dan tersimpan rapi dibalik usia yang semakin tua dilahap waktu.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Ketiga anak lelakinya yang dewasa sudah lama pergi merantau ke Sumatra. Mereka telah berkeluarga dan punya anak. Hampir dua tahun ini mereka tidak berkirim kabar lewat surat seperti dulu. Tidak juga mengirim uang lewat wesel tiap enam bulan sekali. Mungkin mereka kebutuhannya juga banyak, batin mak Mar dalam hati, tetapi ia cukup bahagia dan bersyukur anaknya sudah jadi orang dan hidup berkecukupan. Semoga saja lebaran tahun ini mereka bisa pulang atau sekedar berkirim surat. Rinduku sudah tak tertahan, harap mak Mar dalam lamunannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Dalam hidup yang sederhana – bahkan bisa dibilang serba kekurangan itu – ia justru merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Terbebas dari keinginan-keinginan materi duniawi yang menimbulkan penderitaan hati. Damai dan tenteram. Ia rasakan karunia sang Khalik yang begitu besar. Rahmat yang terus-menerus melimpah. Membuatnya selalu bersujud syukur atas segala yang diberikan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Namun, akhir-akhir ini batinnya merasa tidak tenang. Selalu gundah menggulana. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan mengganggu pikirannya. Membuatnya tampak menggelisah penuh keresahan. Benar-benar pemandangan yang tidak seperti biasa. Pak Kasim yang melihat kondisi ini bertanya penuh heran dalam hati, ada apa kiranya yang sedang dialami oleh istrinya itu. Selama mereka menikah tak pernah ia terlihat seperti itu sebelumnya. Kalau pun ada masalah pasti ia menceritakan kepadaku. Dan alhamdulillah selalu saja ada jalan  keluar walaupun tidak semua masalah bisa langsung tuntas teratasi.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Tapi...tapi kali ini benar-benar lain. Aku sungguh tak mengerti. Tak sedikitpun  dia mau bilang. Ada apa ini? Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah gara-gara hutang yang belum terbayar sama si Kardi keponakannya itu? Ah, aku kira tidak. Utang itu tak seberapa dan si Kardi pun masih longgar.  Apa karena surat peringatan dari sekolah si Abdul yang minta segera membayar uang SPP yang sudah nunggak empat bulan ini? Mmm...bukan, itu tidak mungkin karena sudah dicicil dua bulan dan aku yakin pihak sekolah pasti memberi toleransi. Lantas apa kalau begitu? Pak Kasim terus memutar otak untuk mencari sebab kenapa istrinya seperti itu. Atau jangan-jangan...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Tentang lamaran itu!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ya, pasti tentang lamaran dari Pak Kaji tempo lalu. Antara menerima atau menolak. Kalau menerima berarti siap pula mendengar &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;rasan-rasan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tetangga yang beraneka ragam. Kalaupun menolak, apa daya mereka berdua telah terikat cinta. Ia sepenuhnya sadar kalau anaknya tak pantas menikah dengan anak pak Kaji. Perbedaan kelas itulah alasan utamanya. Sebagaimana dulu banyak ia dengar gunjingan saudara-saudara pak Kaji yang menghasut supaya anaknya, si Wahyu, jangan dekat-dekat atau menjalin asmara dengan Ning anak gadis si Kasim, alih-alih mereka menikah. Dengan berbagai dalih, termasuk menjual dalih agama, saudara pak Kaji itu gencar menghasutnya supaya lamaran itu tidak terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Kalau sampai anakmu kelak menikah dengan anak gadis si Kasim, mau makan apa mereka?” ujar kakak perempuan pak Kaji sambil mencemooh berharap lamaran itu bakal dibatalkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Memang, seperti yang tertulis dalam hadist,” lanjutnya, “Jika seorang lelaki telah dirasa mampu sekiranya ia segera menikah, tetapi jangan asal. Semua ada pertimbangan. Ia harus cantik, tidak sekadar paras, tapi juga hati. Begitu juga dengan agamanya. Dan yang terakhir, cukup ekonominya” sambil menekan pada kata-kata terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Ah, apa benar hal ini yang membuatnya risau? Pak Kasim masih terus saja berta nya dalam hati. Berusaha menduga-duga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Mak, apa yang sedang kamu pikir?” tanya pak Kasim suatu malam ketika mereka membuat puli. “Akhir-akhir ini selain asmamu kambuh, kamu juga kelihatan murung. Ada apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Murung gimana to, pak?” balas mak Mar sambil mencetak puli di meja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Ya, murung. Keliatannya ada yang kamu pikir. Coba cerita, jangan ditutup-tutupi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Tentang lamaran pak Kaji kemaren.” Jawab mak Mar tenang. Ternyata memang benar tebakanku, gumam pak Kasim. Selama ini ia dibuat resah gara-gara lamaran itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tidak salah kalau begitu. Aku tahu kamu pasti memikirkan lamaran itu. Ya, memang sepantasnya kalau kita menolak lamaran pak Kaji. Sebab kita tahu kondisi kita seperti apa dan anak kita memang tidak pantas kalau harus menikah dengan anak pak Kaji. Kamu juga tahu bagaimana saudara-saudara pak Kaji itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;ngrasani&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; kita. Besok kalau pak Kaji ke sini, kita ngomong baik-baik dan memutuskan untuk menolak lamaran itu. Mungkin ini yang terbaik daripada nantinya terus-terusan mendengar gunjingan mereka. Malah menambah dosa. Sekarang kamu tidak usah mikir masalah itu. Mendingan kamu jaga kesehatanmu. Kurangi beban pikiran. Pasti asmamu kambuh gara-gara memikirkan hal ini.” ungkap pak Kasim penuh perhatian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Sampeyan ini ngomong apa?!” tanya mak Mar penuh heran, “Kalau kita menolak lamaran itu justru semakin menambah beban pikiranku.” Pak Kasim terdiam sambil melongo. Mencoba menelaah ucapan istrinya yang sungguh tak disangka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Sampeyan jangan memperumit masalah” lanjut sang istri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Lho, memperumit gimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Ya, seandainya menolak lamaran itu? Aku kira sebaiknya kita terima lamaran pak Kaji. Jangan cuma gara-gara masalah kita ini miskin, terus kita merasa anak kita tidak pantas menikah dengan anak pak Kaji atau gara-gara tidak kuat mendengar gunjingan saudara-saudara pak Kaji atau tetangga sekitar, lantas kita menolak lamaran itu. Biarkan saja mereka mau ngomong apa. Kalau kita tolak, sama saja kita melawan kodrat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Pak kasim masih terdiam memahami maksud istrinya. “Kita harus bijak, pak, me nyikapi hal ini. Mereka itu saling mencintai. Kalau kita memisahkan mereka sama saja kita ini pembunuh yang tak punya hati nurani. Yang aku lihat dari nak Wahyu itu bukan karena dia putra pak Kaji atau anak orang berada, tapi karena dia berilmu dan mandiri. Taat agamanya, baik budi pekertinya, dan bekerja keras. Jangan melihat seseorang dari status atau kekayaan, tapi kita lihat dia sebagai manusia utuh. Rejeki, itu gusti Allah yang ngatur. Asal kita tetap berusaha dan berdoa.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Udara di luar terasa dingin walau malam belum beranjak larut. Mereka berdua masih sibuk membuat puli. Si Siti, Abdul, dan Dewi belum pulang dari ngaji. Mungkin mereka tidur di pondok seperti biasa dan pulang sehabis subuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Rumah ini semakin sempit ya, pak...dan kita belum mampu merombaknya,” sambung mak Mar dengan suara pelan sambil terisak, “Sudah lama aku bermimpi rumah ini dibongkar. Diganti bagian-bagiannya yang telah lapuk dan dibuat agak lebar. Ditambah satu atau dua kamar lagi. Inilah keinginanku dari dulu. Biar nanti kalau kakaknya Ning pulang dari Sumatra dengan istrinya bisa nginap di sini dan menyaksikan akad nikah si Ning. Sebenarnya aku ingin besok ijab kabulnya di rumah kita saja jangan di rumah pak Kaji karena kita kan dari pihak mempelai wanita. Tapi, aku rasa itu tidak mungkin, rumah kita terlalu sempit. Lagi pula, pak Kaji kemaren minta kalau acara pernikahan ini berlangsung di rumahnya saja.”   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Kini, pak Kasim tahu apa yang menjadi pikiran istrinya selama ini. Dia pun hanya bisa terdiam. Menangis dalam hati karena tak mampu mewujudkan mimpi istrinya. Dia tak berdaya untuk hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;Mak Mar masih saja tenggelam dalam pikirannya. Hatinya bercampur aduk antara sedih dan bahagia. Namun, semua itu tetap ia syukuri. Bulan depan pernikahan anaknya berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;b&gt;Rajab, 1428H&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;div id="sdendnote1"&gt; 	&lt;p class="sdendnote"&gt;&lt;a class="sdendnotesym" name="sdendnote1sym" href="#sdendnote1anc"&gt;i&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; 	Kerupuk yang terbuat dari beras atau nasi sisa yang menjadi karak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-1811149590816406593?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/1811149590816406593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=1811149590816406593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/1811149590816406593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/1811149590816406593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/08/hari-bahagia-buat-mak-mar.html' title='Hari Bahagia Buat Mak Mar '/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-2754411206711635388</id><published>2008-06-17T02:54:00.004+07:00</published><updated>2008-06-17T03:23:20.009+07:00</updated><title type='text'>Kabar Rindu Dari Timur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;To           : anginselatan@yahoo.co.id&lt;br /&gt;Date         : 21 Mei 2006 00:05:21&lt;br /&gt;Subject     : Untukmu Di Selatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabarmu kawan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekian lama kita berpisah rindu hati ini untuk beromantisme dengan masa lalu, berbagi cerita dan berdiskusi denganmu melewati malam. Berteman secangkir kopi, sepiring jadah bakar, dan sebungkus rokok kretek Dji Sam Soe di angkringan dekat stasiun Tugu. Sama seperti dulu yang sering kita lakukan semasa mahasiswa ketika gairah muda masih bergejolak dan semangat perlawanan akan sebuah kondisi sosial yang timpang selalu membara dalam hati. Semoga semangat itu tak pernah padam ditelan waktu. Secuil harapanku untukmu. Selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun berlalu tentunya menorehkan kisah yang panjang di antara kita. Banyak orang bilang bahwa hidup itu pilihan dan jejak-jejak langkah kita bebas mengantar kemana kita harus melangkah. Dan pilihanmu adalah kebebasanmu, begitu juga denganku. Kita selalu percaya–dan memang sebuah kenyataan–kawan selalu datang dan pergi layaknya angin yang berhembus sesukanya, kadang dia datang tak disangka lalu lenyap begitu saja ketika kita masih menikmati sentuhan lembutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat para buruh tani yang karena terlalu seringnya menikmati ketertindasannya, menjadikan itu sebuah keindahan hidup karena mereka meyakini bahwa kekekalan bukan terletak di situ. Dunia ini bagi mereka hanya sebatas dayungan sementara menuju pulau keabadian. Mereka terlalu lelah untuk merubah kenyataan dan hanya bisa pasrah menyerahkan kemerdekaan hidupnya di ping-pong kesana kemari oleh iklim kebijakan para penguasa yang hanya peduli ketika suara mereka dibutuhkan untuk naik singgasana kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan...&lt;br /&gt;Kadangkala aku bertanya dalam hati kecil ini, apa salah jika kita ingin beromantisme dengan bagian sejarah kita di masa lalu yang menjadikan kita bisa seperti ini? Apakah itu terlalu naif jika kita lakukan? Apa lantas absah dibilang “banci” karena sekedar ingin belajar dari sejarah—dan sejenak terbuai dengan kebesaran masa lalu—yang membentuk kita? Atau mungkin orang bisa bilang begitu karena dia terlalu munafik untuk sekedar memanja dirinya dengan buaian imajinasi lampau untuk meraih guargaba di hari depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooo...kiranya aku tahu sekarang, mungkin—aku paling benci dengan kata ini—mereka mengira bahwa beromantisme  cenderung ke watak orang-orang yang oportunis, terlalu terbuai sampai membuat kita insomnia, mabuk dengan kenikmatan dan keindahan kejayaan lampau hingga kita tak sanggup berdiri lagi. Putus asa. Dikalahkan keadaan. Lumpuh akut stadium empat. Atau bisa jadi itu berangkat dari chaos ego dalam diri karena melihat banyaknya seorang kawan diantara kita yang dulu terlalu menonjolkan eksistensinya, sehingga lupa akan tugas, peran, dan posisinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak mudah untuk melupakan sejarah yang telah membentuk kita. Semangat militansi yang mengokohkan karakter tahan banting. Tegar. Tak mudah putus asa. Dan pantang untuk dihempas badai. Bagaimana pondasi kekuatan yang kita bangun dulu telah berdiri kokoh. Semua begitu indah dalam satu kesatuan utuh. Tak terpecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaupun tentu masih ingat peristiwa malam itu. Ketika sekelompok preman berbaju hitam datang, menyerang rumah tua yang kita huni, ketika kita semua sedang asyik berdiskusi. Semua kalap dirudung ketakutan yang mencekam. Tapi itu tak membuat kita goyah. Malah menjadikannya kekuatan untuk tetap bersatu. Mengobarkan semangat perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun silam, kita ikut membentuk sejarah di negeri ini. Berangkat dari kondisi yang semakin tidak jelas. Harga sembako naik dan rakyat semakin terjerat. Dengan dahsyat seluruh elemen massa rakyat bersatu turun ke jalan. Meneriakkan reformasi. Menginginkan perubahan yang lebih baik. Selama tiga puluh dua tahun negeri ini dikuasai oleh rezim otoriter Suharto. Selama itu pula rakyat dibuai dengan kesejahteraan yang semu. Siapa yang berada di garda depan pada waktu itu? Tentu tak lain adalah kita, mahasiswa; generasi muda negeri ini. Dengan gerakan moralnya, kita mampu menumbangkan penguasa orde baru. Namun sayang, perubahan itu harus dibayar dengan darah. Ratusan orang menjadi tumbal reformasi 1998. Inilah catatan hitam dalam sejarah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah delapan tahun berlalu, kita malah menyak sikan pondasi yang dulu terbangun kuat, mulai hancur di sana-sini. Hanya sebagian saja yang masih utuh menopang. Dan ironisnya kehancuran itu datang dari dalam. Kondisi yang tidak sehat, eksistensi diri dan pembusukan-pembusukan isu. Kontradiksi-kontradiksi yang terjadi bukannya membuat kita semakin dialektis malah menghancurkan. Dan semua mera sa paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrrgggh...aku terlalu banyak melakukan rekolusi refleksi di sini. Aku telah membawamu terlalu jauh di alam refleksiku. Semakin mengingatnya, semakin membuatku ingin menangis. Sampai mana aku tadi ? bahkan aku lupa sendiri dengan inti yang ingin aku sampaikan dan tanyakan ke kamu. Imajinasiku terlalu lompat-melompati sampai lupa dimana ia harus mendarat lagi. Tak masalah. Malah dengan begini otak kiriku bisa lebih cerdas bekerja. Tak terbebani dengan aturan normatif. Bebas mengalir dan mengungkapan apa yang ingin dia ungkapkan. Dia menuntut hak yang sama kepadaku ketika dia sedang berfikir dan bekerja. Menjadi otak yang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan...&lt;br /&gt;Apa yang kita lakukan dulu bukan sebuah hal yang sia-sia walaupun tidak semuanya membuahkan hasil yang gilang-gemilang. Bahkan cita-cita yang dulu kita goreskan belum tentu menampakkan hasil yang cukup signifikan setelah delapan tahun berlalu. Bisa jadi akan tampak hasilnya jika kita beranak-pinak dan mempunyai cucu kelak. Sebuah revolusi besar-besaran di negeri ini dimana kesenjangan kelas, ketimpangan sosial, ketertindasan dan ketidakadilan akan musnah tergantikan kesejahteraan yang merata, persamaan hak, pendidikan gratis yang ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan. Singkatnya, sampai kapan pun kita akan tetap memimpikan dan selalu berusaha mewujudkan sebuah kehidupan masyarakat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi dan partisipatif secara budaya. Betapa indahnya jika itu bisa terwujud. Duh Gusti Maha Agung, semoga saja kau mendengar doa hamba mu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan…&lt;br /&gt;Betapa nikmatnya kesepianku malam ini jika kulewati bersamamu sekarang. Berteman secangkir kopi kental pahit—aku masih tahu kesukaanmu—sepiring jadah bakar dan sebungkus rokok kretek Dji Sam Soe, sambil berdiskusi mulai dari hal yang paling ringan; bahkan konyol, sampai pada permasalahan yang paling progress. Ha..ha..ha..aku selalu terenyuh sambil tertawa kecut bercampur rasa bangga penuh semangat yang berkobar tiap kali mendengar kata ini terucap dari mulutmu. Ditambah dengan ekspresimu yang tak jauh beda dengan Bung Tomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa tentunya berbagi pengalaman kita masing-masing dan pilihan gerak perjuangan kita. Siapa tahu setelah delapan tahun berlalu kau pun telah banyak melanglang buana di kancah perpolitikan profesional dan tiba-tiba menjadi badut berdasi dengan fasilitas lengkap dan proyek-proyek yang menggemukkan badan. Oohh…aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Dan, aku akan tertawa terpingkal-pingkal sampai perutku sakit. Memandangmu penuh kenaifan. Tapi aku yakin kamu bukan stereotype pejuang seperti itu yang terlalu menghargai murah idealisme-mu dan melacurkan fondasi kekuatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya kau tahu pula bagaimana kabar kamerad yang lain? Yang telah tersebar ke sembilan penjuru mata angin dan pelosok negeri ini? Tentunya kita tak bisa melupakan garis koordinasi begitu saja,bukan?. Bukankah kita tetap harus melakukan pembacaan terhadap kondisi; apa saja capaiannya dan mengevaluasi serta menelorkan rekomendasi. Setidaknya kita juga bisa belajar dari kegagalan komunisme di negeri ini. Upss…aku harus hati-hati mengucapkannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ini masih terlalu sensitiv bagi masyarakat awam di negeri ini. Bisa jadi kita dituduh sebagai underbownya atau yang lagi trend disebutkan oleh ormas-ormas keagamaan dan ormas bentukan para eks-militer sekarang ini dengan “komunisme gaya baru”. Kata ini jadi istilah yang diobral murahan layaknya dagangan di pasar loak yang dengan mudah didapat dan dilabelkan pada sekelompok orang atau golongan yang selalu berjuang dan berteriak lantang dengan jargon-jargon kerakyatan di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kita sadar dan kita tahu bahwa kita bukan komunis dan dengan tegas berstatement kita tidak sepakat dengan komunisme! Ironis memang, hegemoni yang dibentuk rezim otoriter Suharto masih begitu kental dan langgeng melekat di otak masyarakat negeri ini. Seolah kita sulit untuk mematahkan warisannya dan menjadi momok yang menakutkan. Aku jadi teringat dengan slogan yang tertulis di setiap bungkus rokok; hal ini mirip sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;“Peringatan Pemerintah: berpaham komunis dapat menyebabkan kanker ideologi, serangan ormas sektarian,dikucilkan dari masyarakat, teror kejiwaan dan mati ”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;semoga saja aku tidak keterlaluan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan...&lt;br /&gt;Aku selalu berharap mereka dan kita semua masih senantiasa tak lelah berjuang menyampaikan nilai-nilai demokratisasi, ide-ide progressif revolusioner yang semakin lirih terdengar di tengah arus globalisasi ini dan tetap melakukan perlawanan terhadap kondisi sosial yang timpang.   Sama seperti Tan Malaka bilang, bukankah kita menginginkan kemerdekaan 100%?. Umur kita akan semakin tua, tetapi tidak untuk semangat perlawanan kita. Lihatlah para generasi muda kita sekarang yang banyak terbuai dengan keglamoran hidup dan budaya konsumerisme. Mereka yang telah diuntungkan oleh kondisi sampai lupa kalau ada yang berteriak kelaparan. Mereka yang lebih peduli pada lifestyle hari ini daripada melihat nasib petani dan buruh yang semakin tidak jelas arahnya. Mereka yang lebih takut ketinggalan trend MTV daripada mengkritisi pendidikan yang semakin tidak logis di negeri ini. Mereka telah terjerumus dalam budaya hedonisme. Bersikap apatis dan apolitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun halnya dengan mereka golongan intelektual yang banyak melacurkan keintelekannya. Memang percuma saja bangsa ini mempunyai banyak lulusan sarjana namun akhirnya menjadi penindas-penindas baru. Bahkan mereka yang dulu selalu berteriak lantang di jalanan, kini banyak yang menjadi sosok oportunis. Mengkhianati perjuangan. Menjadi kaki tangan penguasa. Tapi patut kita amini, kita semua memang rentan untuk menjadi sosok yang oportunis. Bisa jadi aku, kau, atau kawan-kawan kita yang lain. Kita tidak bisa menisbikan hal itu. Tetapi, selama kita masih saling mengingatkan, kritik oto kritik, saling membangun, menyatukan kekuatan, aku yakin kita bisa menepisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ajal menjemput, sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk menyampaikan nilai-nilai ini ke generasi muda di bawah kita yang kelak akan meneruskan langkah selanjutnya. Tidak jauh beda seperti apa yang dilakukan para pendahulu kita. “Perjuangan sampai darah penghabisan”. Begitu arus bawah selalu berseru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ach...malam semakin larut dan mataku tidak bisa di ajak berkompromi lagi. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tuliskan di sini, tetapi sekuat apapun manusia ia pasti akan dikalahkan oleh rasa kantuk, walaupun bercangkir-cangkir kopi telah diminum. Sudah saatnya ku akhiri kabar rinduku ini. Aku tunggu kabar darimu selanjutnya. Dan jika kamu punya waktu luang kutunggu kedatanganmu di sektor timur. Ada secangkir kopi kental pahit, sepiring jadah bakar dan sebungkus rokok kretek Dji Sam Soe serta bingkisan obrolan malam yang akan menyambutmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Malam,kawan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ Send ]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-2754411206711635388?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/2754411206711635388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=2754411206711635388' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/2754411206711635388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/2754411206711635388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/06/kabar-rindu-dari-timur.html' title='Kabar Rindu Dari Timur'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-4056777318038317453</id><published>2008-06-06T01:56:00.003+07:00</published><updated>2008-06-08T18:52:19.526+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span&gt;Jazz dan Seorang Kawan yang Menyendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dance me to your beauty with a burning violin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dance me through the panic 'til I'm gathered safely in&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lift me like an olive branch and be my homeward dove&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Sebentar lagi. Ya, pasti tidak lama. Biarlah aku tunggu.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Memang belum lama aku mengenalnya. Baru beberapa pekan ini. Dan aku merasa senang setiap kali berdiskusi dengannya. Banyak hal yang aku pelajari darinya. Kadang kalau kita sudah bosan dengan tema yang berat, obrolan satire mengenai sex pun jadi santapan yang menarik untuk kesegaran otak. Ah, aku kira masing-masing manusia punya imajinasi liar tentang sex. Bahkan, tanpa sekolah pun.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tak ada yang istimewa dengan Rendez-vous ini. Semua mengalir begitu saja. Sangat sederhana. Awalnya aku mengenal dia dari seorang kawan lamaku. Lalu berlanjut hingga sekarang. Persahabatan baru yang akan terjalin. Harapku. Mungkin. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dan malam pun baru saja beranjak. Buatku ini saat-saat yang paling menyenangkan untuk menikmati keramaian malam. Melihat tawa-tawa lepas dari jiwa-jiwa yang lelah oleh belenggu rutinitas dan segala penat metropolis. Melihat lalu-lalang sepasang kekasih yang sedang asyik-masyuk bermesraan seperti dalam roman-roman picisan. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alunan jazz mengalun dari sebuah gramofon yang terletak di sudut kedai ini. Dengan temaram lampu yang tak begitu terang. Sungguh tenang. Aku masih saja duduk berteman secangkir kopi kental pahit dan sebungkus rokok kretek.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Selintas kukenangkan, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Malam”, sapaku&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Malam juga”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“E-mailmu telah aku terima”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Oya..”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Boleh tahu biografi singkatmu?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Kan udah aku tulis di email itu?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Iya, tapi kamu belum memperkenalkan diri. Jadi aku agak bingung. Walaupun sebenarnya memang bingung”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ha..ha.. ha...Salam kenal lagi kalau begitu.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ok.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Namaku sudah jelas kan di email itu. Biasanya di panggil Je.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ooo, aku Amo.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Mmm, Amo? Unik sekali namamu.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Pun dengan namamu”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Itu nickname ku dan aku lebih nyaman dengan nama itu. Daripada nama pemberian orang tuaku.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Pun dengan ku.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ah, kau terlalu mengada. Terlalu menyama.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Tidak. Aku tidak mengada dan aku tidak menyama. Sama sekali.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Tentu setiap nama punya arti dan makna yang membuat mereka merasa nyaman dengan itu.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ya, dan tentu saja bukan bermaksud mengingkari apa yang telah diberikan oleh orang tua”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Aku tahu”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Tulisanmu bagus. Aku suka. Pernah kau kirim ke media?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Belum. Aku kurang percaya diri. Masih dalam penjara egosentris.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Kok bisa?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Banyak penyebabnya. Pernah aku masuk komunitas menulis dulu. Ikut pelatihan-pelatihan, tapi yang aku dapat malah neokolonialisme.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Ehm, berat.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Penulis senior yang ada di komunitasku itu, tidak mau kalau ada orang yang lebih pintar daripada mereka. Mereka banyak menulis cerita remaja. Sedang aku, aku sudah mulai menulis tentang gender, lintas agama, bahkan pelecehan sex pada laki-laki.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Menarik”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Setelah dua tahun aku baru sadar.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Apa?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Jangan mudah percaya dengan pelatihan-pelatihan menulis. Bisa jadi itu sampah! Dan sepertinya aku harus banyak belajar dari sosok Edgar Allan Poe. Liar, banal, misterius dan suram di setiap karyanya. Tak jauh beda dengan kisah hidupku.” &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Mmmm”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Amo...”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Ya”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Kalau kamu sendiri bagaimana? Sekarang giliranmu bercerita tentang hidupmu?&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Sebenarnya tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan dari perjalanan hidupku. Aku hanya seorang pemuda biasa. Yang mempunyai mimpi menjadi backpacker. Bertualang. Belajar langsung dengan realitas. Berkeliling dunia dan membuat catatan perjalanan. Namun sayang, aku hanya mampu berkeliling nusantara. Itupun belum semua. Tahun depan aku mau ke Timor Leste. Kawan lamaku akan menikah.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Menarik sekali, lalu?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Aku suka menulis. Tapi selalu gagal. Ditolak oleh media. Belum ada satu pun cerpenku yang dimuat di koran. Ah, kadang aku merasa putus asa, namun tiada guna.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”Aku rasa tak perlu kau kecewa. Kita bisa buat media sendiri yang kental dengan ruh dan  jiwa muda. Liar. Berang. Pemberontak. Ooo...betapa garangnya.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Brilian! Sepenuhnya aku sepakat denganmu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Let me see your beauty when the witnesses are gone&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Let me feel you moving like they do in Babylon&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Show me slowly what I only know the limits of&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dance Me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Sebentar lagi. Aku yakin itu. Pasti dia muncul. Biarlah aku tunggu.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Entah mengapa, walaupun aku belum lama mengenalnya, aku merasa bahwa aku telah berkawan lama dengannya. Lama sekali. Sangat lama. Aku merasa telah begitu dekat. Bahkan kuanggap sebagai sudaraku sendiri. Aku pun bingung kenapa bisa seperti ini. Mungkin aku memang butuh sudara. Karena aku memang tak punya sudara. Aku terlahir tunggal. Dan orang tuaku? Sudah lama berpulang.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tak pelak bilamana benar kiranya sabda seorang filsuf; orang yang merdeka itu sendiri, sepi, dan dingin. Entah siapa filsuf itu, yang jelas seorang kawan pernah bilang seperti itu kepadaku. Pada suatu malam di Jogja setelah kami meminum dua liter Lapen bersama. Kalimat bijak itu terlontar begitu saja. Dan sampai sekarang kupahat dengan jelas di jidatku. Sejelas lafadz Kaf Fa Ra yang terukir di jidat Dajjal. Biar mereka tahu, mereka orang-orang yang menyendiri, merenung, berfikir, pun mereka orang-orang yang termarjinalkan; merdekalah kalian sesungguhnya! Hya...&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Malam bertambah larut. Dan ini saat-saat yang paling aku sukai. Waktunya memberi penghormatan pada serigala-serigala malam yang kelaparan, yang siap mencari mangsa dan menerkam dengan buas. Berdiri dengan liuk-lekuk tubuh mereka yang eksotis di tiap-tiap sudut kota. Membuat malam semakin marak. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Aku masih tafakur dalam kesendirianku di sini. Cangkir kedua kopi kental pahit kesukaanku baru saja aku pesan. Menyusul sebatang kretek yang aku sulut kemudian. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Selintas kukenangkan lagi,&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Kenapa kau suka dengan Socrates?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Dia orang bijak. Sebijak pandangannya terhadap dunia.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Tapi dia termajinalkan dan mati mengenaskan.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Bukankah itu harga untuk sebuah kemerdekaan. Giordano Bruno, Galileo, Marx, Marsinah, Udin, Wiji Thukul, apakah mereka mati dengan wajar? Apakah mereka mati untuk hal yang konyol?&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Mmmm”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Merdeka itu mahal. Socrates percaya bahwa manusia ada untuk suatu tujuan, dan bahwa salah dan benar memainkan peranan yang penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan dan sesamanya. Socrates percaya bahwa kebaikan berasal dari pengetahuan diri, dan bahwa manusia pada dasarnya adalah jujur, dan bahwa kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang membebani kondisi seseorang; kenalilah dirimu".&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Telah lama aku tidak berdiskusi sehebat ini.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Buat apa kau berdiskusi dengan orang sakit?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Hey...siapa bilang kau sakit? Pernahkah itu terlontar dari mulutku?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ah, sudahlah. Maafkan aku Amo. Beginilah aku adanya. Maka dari itu aku lebih suka menyendiri dan takut untuk berkawan. Aku takut menyakiti.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Lupakan Je. Sampai kapanpun kau tetap kawanku.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Aku rasa ini obrolan terakhir kita. Besok aku akan pergi.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Kemana Je?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Entah. Namanya juga orang sakit, he..he..”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ah, kau pun...”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Sebelum aku pergi, ada yang ingin aku sampaikan.”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Apa itu?”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;“Ada sebuah gua. Di dalamnnya terdapat manusia yang tidak dapat keluar dari gua tersebut. Mereka sudah berada di sana seumur hidup dan tidak bisa melihat ke mana-mana, hanya bisa melihat ke depan saja. Akan tetapi, mereka bisa melihat bayang-bayangan orang di dinding belakang gua. Bayang-bayangan ini disebabkan oleh sebuah api yang berkobar di depan, di lubang masuk ke gua ini dan orang-orang di luar gua yang berjalan berlalu-lalang. Para tawanan bisa melihat bayang-bayangan orang ini dan suara-suara mereka yang menggema di dalam gua. Suatu hari seorang dari mereka bisa keluar. Dia melihat segala sesuatu dan ia menyukainya. Namun, ketika ia kembali ke gua untuk mengajak yang lain keluar, mereka tidak mau dan justru membunuhnya(2). Bagaimana menurutmu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the children who are asking to be born&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dance me through the curtains that our kisses have outworn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Raise a tent of shelter now, though every thread is torn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Aku yakin sebentar lagi. Ya, pasti tidak lama. Biarlah aku tunggu.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sebentar lagi...&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tak akan lama...&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tapi, sampai kapan?&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Memang belum lama aku mengenalnya. Baru beberapa pekan ini. Dan aku merasa senang setiap kali berdiskusi dengannya. Entah mengapa, walaupun aku belum lama mengenalnya, aku merasa bahwa aku telah berkawan lama dengannya. Lama sekali. Sangat lama. Aku merasa telah begitu dekat.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alunan jazz yang mengalun dari gramofon telah berhenti lima belas menit yang lalu. Malam semakin larut. Dan memang, belum sepenuhnya aku mengenalnya. Aku rasa dia telah merdeka. Bebas. Sendiri, sepi, dan dingin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dance me to the end of love&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Pare, 5 Juni 2008&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;(1) Lirik Lagu Dance Me To The End Of Love dinyanyikan oleh Madeleine Peyroux dalam festival Java Jazz 2007.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;(2) Analogi Manusia Gua - Plato.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-4056777318038317453?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/4056777318038317453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=4056777318038317453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/4056777318038317453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/4056777318038317453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/06/jazz-dan-seorang-kawan-yang-menyendiri_06.html' title=''/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-6224566673516847954</id><published>2008-05-25T17:06:00.002+07:00</published><updated>2008-05-25T17:57:01.211+07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Kawan Tentang Seorang Kawan Untuk Kawannya</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;I&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rokok yang tinggal sebatang di atas meja itupun akhirnya kau sulut dengan penuh ketenangan. Sungguh luar biasa nikmat kau rasa ketika hisapan pertama memasuki seluruh rongga tubuhmu. Parumu mengembang sedikit berat. Menyerap dalam aliran darah hingga jantungmu merasakan debaran yang luar biasa. Berpacu. Berdetak dengan kencang. Sampai akhirnya asap yang pertama itu keluar lagi dengan bobot yang tak sebanyak ketika masuk, sebagian tertinggal di dalam. Menetap. Berkumpul. Menyebar  entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,semoga bisa terlupakan bersama hilangnya asap rokok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata tidak, satu persatu hal itu masih tertinggal dalam memori otakmu yang sekian hari menjejali sampai otakmu mati separo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua kenyataan yang kau lihat itu ternyata benar  adanya. Begitulah kehidupan. Kau hanya tinggal memainkan peranmu. Ketika tiba saatnya episode akhir dalam sandiwara ini, kau tiada guna lagi. Jangan harap kau akan selalu jadi pemenang atau tokoh moderat. Bisa-bisa kaulah yang akan selalu mengalami kekalahan atau kalau tidak kaulah sebenarnya yang ternyata menjadi pecundang atau tokoh licik yang cerdik. Siapa tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa muda, semangat muda, gairah muda tentang pemberontakan itulah yang terus-menerus mengganggu pikiranmu. Sebuah kisah yang tak mudah memang. Tapi kau tetap harus berkisah. Menyelami kisah. Menjalani kisahmu itu. Karena kau sang juru kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;II&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kawanku, Rudi Marsal Pires, yang selalu ku kasihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu kamu marah sebelum membaca tulisan ini. Kamu lebih senang kehadiranku, bukan selembar tulisan dan potret masa lalu. Aku minta kamu juga mengerti keadaanku di sini, aku berjanji pasti akan kembali. Kau masih ingat, suatu hari aku dari Dili pergi ke Lospalos hanya dengan modal satu dollar Amerika, di bawah standar kehidupan orang miskin. Aku menahan lapar di tengah jalan,  tersesat di jalan dua arah menunggu bus di kota Baucau ditemani sebatang rokok, tetapi aku selalu menepati janji. Anggaplah aku ketinggalan kereta dan sedang berjalan kaki pulang ke kampung halaman, di tengah jalan aku menemukan banyak kehidupan yang sangat beragam warnanya. Lalu kutulis dalam sebuah cerita perjalanan seorang pengembara mencari cinta, perdamaian, dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini tidak seperti dulu lagi, kata orang dunia sudah berubah, aku tertawa sendiri mendengar itu. Dunia sebenarnya tidak berubah, yang berubah adalah manusia yang menghancurkan dunia. Waktu kita masih bersama dalam situasi politik yang hampir mencengkram leher dan urat nadi kita, kita hampir mati dalam gelombang laut musim barat. Aku pikir mungkin pak polisi dan tentara melihat kita berdua sebagai menu makanan yang tidak mengundang selera makan mereka sehingga kita diberi kesempatan untuk hidup, dan bercerita kisah yang hampir hilang dari ingatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat betul, kamu  belajar gitar dari aku, sementara aku belajar mencintai perempuan dan makan sehat darimu. Kadang-kadang kamu mengajakku makan malam bersamamu di rumah dinas berwarna putih seperti kulitmu. Makanan yang  sangat enak dan lezat buatan ibumu. Aku suka sekali dengan sambal jeruk nipis. Ibumu melihat ku seperti anaknya sendiri. Almarhum bapakmu seorang pegawai, sedangkan bapakku seorang polisi yang digaji rendah. Meski begitu, aku tetap bangga dan kagum terhadap profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah berjanji untuk katakan ‘tidak’ pada segala jenis merek rokok yang menghancurkan hidup kita, namun itu hanya omong kosong. Mungkin karena darah kita yang masih segar, atau barangkali kita seperti anak kecil yang suka main kotor dan makan tanah. Itulah proses kehidupan, bagaimana manusia ingin  mandi kalau dia sendiri belum kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah bermain mobil-mobilan di bawah pohon beringin besar dekat rumahku. Kamu memiliki mobil plastik koleksi terbaru. Orangtuamu sangat memperhatikanmu dalam hal mainan. Mereka memanjakanmu sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Sementara aku bermain dengan mobil buatanku sendiri. Bahan-bahannya dari sepotong kayu kering dan kaleng bekas dengan paku berjumlah delapan belas. Kita bermain bersama adik-adik membuat jalan kecil. Mengangkut tanah dan batu manjadi benteng pertahanan kita, seperti kota Berlin kecil dengan desain arsitek amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga masih ingat ketika mabuk Colombus dari orang-orang Buton sebagai tanda perdamaian antara aku dengan istri pak Samsudin yang mukanya penuh dengan jerawat. Hanya gara-gara aku meminta istrinya untuk menghidupkan tape Polytron yang tidak terawat itu untuk menghiburku di pagi hari yang buta. Suaminya melaporkan kejadian itu ke kantor polisi dengan alasan aku mencoba merayu istrinya yang sudah dikaruniai dua anak. Gila saja! Ini tidak adil bagiku karena aku tidak memiliki rencana untuk melakukan hal semacam itu. Sampai akhirnya pak polisi Masu’d dari Bima bersama Justino dari Moru (Parlamento) dengan motor RX-Kingnya  mencari aku sampai di SMP Lautem. Waktu itu aku sudah tahu kedatangan polisi, aku berusaha menghindarinya. Di pagi yang buta aku berlari sampai ke kampung Liarava. Sembunyi di asrama anak Soikili dan Iraonu. Kami makan jagung rebus dan ubi kayu. Kami bercanda tawa. Bercerita tentang reputasiku yang jelek di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa hebatnya pengalaman remaja dulu. Aku sungguh tak bisa melupakannya. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanku, Rudi Marsal Pires, yang selalu kurindukan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat dengan jelas bahwa malam itu udara begitu dingin, begitu pekat gelap yang menyelimuti. Iringan suara jangkrik seperti paduan suara di Opera House di Sydney menemani langkahku menembus malam menuju Lautem. Langkahku terhenti ketika tiba-tiba ada bisikan datang dari pasar gelap itu.&lt;br /&gt;“Itu mungkin Robin, tapi kenapa dia tidak pakai baju? Coba kau panggil, Karlito”, Ujar pak Samada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karlito mulai memanggilku, “Robin, darimana kamu?”.  Aku sedikit takut mendengar suara itu. Aku jawab, “Aku dari kampung Liarava. Apakah kalian bersama polisi?”&lt;br /&gt;“O, tidak, kami bersama pak Samada, Rudi, dan Germano. Pak Samada memanggilmu, Robin. Dia dari tadi cari kamu”. Dengan berat hati kulangkahkan kakiku ke pasar gelap itu. Disitu telah menunggu kau, pak Samadi, dan Germano. Kulihat wajahmu begitu gusar. Dan aku sendiri mungkin terlihat pasi. Kita pun beranjak ke rumah orang Buton itu untuk berdamai. Betapa girangnya aku sesampainya disana. Kita langsung disuruh makan. Aku begitu menikmati sekali. Ada ikan merah besar, bir ABC 5 kaleng, dan 2 botol Colombus. Sungguh, sebuah tanda perdamaian yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkohol mulai mengotrol tubuhku. Aku merasa darahku tidak berwarna merah lagi. Bola mataku seperti Bob Marley menghisap ganja. Aku mulai ngomong dengan suara keras dan tertawa sendiri seperti orang gila dalam lagu Iwan Fals. Kita pulang dari rumah orang Buton itu. Kau memapahku karena tubuhku mulai melayang ringan. Aku berjalan sempoyongan. Tentu kau ingat, ketika kita sampai di depan kantor polisi aku mulai berteriak dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Justino, kita punya masalah belum selesai, selama tanganku belum kena mukamu, kamu ingat itu! Kamu bisa lapor ke komandanmu, aku tidak takut sama kalian semua. Selamat tidur”, setelah itu kita pergi. Aku mabuk berat malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;III&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi subuh. Dan kau tetap saja terjaga. Pagi ini tak begitu dingin. Kau mulai beranjak dari dudukmu sedari tadi. Saatnya membuat kopi lagi. Kau melangkah tenang menuju dapur. Disana masih ada sisa air panas dalam termos, juga sebungkus kopi racikan ibu. Tentu saja semua orang tahu, bahwa itu kopi kesukaannmu. Sering kalinya kau ceritakan bagaimana kehebatan ibumu dalam meracik kopi. Memang dalam hal rasa dan selera kau cukup angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tanggung rasanya bila kau tidur pagi ini. Pikiranmu masih bergejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau renggangkan tubuhmu sejenak. Kau tarik nafas. Dalam. Lalu kau hembuskan dengan perlahan. Otakmu kembali segar. Segera kau buka sebungkus rokok lagi. Kau ambil sebatang. Kau sulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus melanjutkannya. Tugasmu belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;IV&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;O, Rudy kawanku, sahabatku, yang tak akan kulupa dan tak pernah kulupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu cerita ini sudah basi di telinga orang-orang yang pernah memfitnah kita hidup di zaman itu. Aku tidak menceritakan kepada mereka. Mereka punya pilihan untuk mendengar atau membaca cerita sesuai dengan porsi yang enak, dan itu hak setiap orang. Aku bercerita kepada anak cucu kita, generasi yang akan datang, bayi-bayi yang baru lahir, dan embrio-embrio yang sedang tumbuh dalam rahim pasangan anak muda, yang mungkin besok akan menikah. Aku ingin mereka tahu sebuah kisah yang pernah terjadi di negeri ini, aku bercerita secara jujur apa adanya. Apakah aku salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin hidup kembali di zaman itu. Aku tidak mau seperti jagoan dalam film India yang memukul orang-orang jadi babak belur. Ketika kita masih remaja, sering menghancurkan tenda-tenda pernikahan. Lorong gelap itu sudah terlalu tua untuk aku berjalan. Aku ingin membuka lembaran baru, seperti kakek tua yang rajin mandi sehari tiga kali di bawah air mancur, mengambil batu kecil digosokan dari ujung kaki sampai rambut. Berlama-lama bermain bersama air. Mulai menjadwalkan jadwal  menenggok tetangga sebelah, bangun lebih awal lalu membuat kopi. Mengantar anakku ke sekolah, membaca sebuah novel, mengajar bahasa kepiting kepada anakku, mendengar musik Mozart klasik. Kehidupan yang damai bagi aku untuk belajar. Ah, aku merasa tua sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, sekarang aku mulai rajin berdoa. Hal ini pun aku pelajari dari kamu ketika dulu kita berada dalam kondisi yang terjepit. Waktu kita pertama kali tinggal satu rumah untuk bersekolah di Lospalos. Malam itu, kita menyalakan dua lilin besar, lalu berdoa Bapa Kami dan  doa Rosario. Aku melihat kamu sangat serius seolah-olah kamu melihat malaikat datang dari surga atau sedang berkomunikasi dengan Tuhan Yesus. Dalam hatiku, aku tertawa kecil. Kamu benar-benar berubah malam itu, imanmu lebih kuat dari pada aku. Kayaknya kamu cocok jadi seorang katekis atau mungkin besok lusa mau jadi pastor. Aha, dalam hatiku aku tertawa terpingkal. Setelah selesai berdoa, lilin kamu matikan dengan tanganmu. Tidak sampai lima menit, tiba-tiba di luar rumah ada bunyi-bunyi sepatu boat tentara Indonesia. Ada orang sedang berjalan mengelilinggi rumah kita, dan awalnya kita tidak takut. Di dalam rumah sangat gelap. Kita tidak saling melihat satu sama lain, belum ada listrik, rencananya lusa baru kita pasang. Tiba-tiba terdengar lagi di luar, bunyi sepatu semakin lama semakin banyak. Aku sempat berpikir ada apa sebenarnya. Aku berbisik ke telinggamu, mungkin ada intel yang sedang mengikuti langkah kita, dan memang daerah ini banyak intelnya Pak Thomas, pemimpin Alfa di kota itu dibawah komando Kopassus di Laulara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelap itu kita terus berbisik-bisik. Mungkin di antara kita ada yang bekerja sama dengan para pemimpin pemberontak sehingga sampai bau klandestinnya tercium oleh hidung pak Thomas yang lubangnya semakin besar. Aku juga sudah mulai takut, di tanganku ada samurai panjang milikmu. Dalam hatiku mulai berdoa. Makanya sampai sekarang kadang aku berpikir, kita akan  mengingat Tuhan pada saat masuk gereja setelah keluar sudah lupa. Kita berdoa kepada Tuhan pada saat kita sedang ada musibah atau dalam ketakutan, kalau keduanya tidak ada maka kita akan melupakan Tuhan seperti dalam cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kawanku Rudi Marsal Pires&lt;br /&gt;Semakin cerita itu aku kenang semakin aku rindu pula kehadiranmu disini. Kini Timor Leste telah merdeka. Namun apakah manusianya juga telah merdeka diri? Banyak nyawa yang terlalu sia-sia melayang. Darah yang terlalu suci tercecer di tanah. Tangisan yang tiada henti yang terlalu sesak jika aku mengenangnya lagi. Semoga kini jauh lebih baik. Tolong kau bawakan aku sepenggal kisah dari kampung kita. Bagaimana rupa disana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untukmu, telah aku baca email yang kau kirim.  Aku senang kau bisa datang ke Melbourne. Kebetulan minggu depan di kafe tempat kerjaku ada opera jalanan.  Malam harinya akan ada diskusi tentang komunisme. Sungguh menarik bukan? Diskusi terbuka yang tak akan kau dapat di Indonesia. Aku yakin kau sudah tak sabar ingin segera kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;V&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Satu kisah telah kau buat walaupun kenyataannya tak banyak orang yang tahu tentang sosok dan segala kisah-kisahmu. Tapi kau cukup bangga mampu berkisah. Sebuah mimpi yang telah lama kau pendam. Menjadi juru kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar langit pagi semburat biru. Cerah sekali. Tiba-tiba kau tersentak. Penerbangan ke Melbourne jam delapan pagi ini! Segera kau bergegas untuk berbenah. Tidak boleh terlambat sampai di bandara. Hatimu terus berdebar. Tak kuat menahan rasa rindu untuk bertemu seorang kawan lama yang telah menantimu di negeri sebrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasmu hampir selesai. Kisah ini harus segera disampaikan. Sebuah kisah sederhana. Kisah seorang kawan tentang seorang kawan untuk kawannya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Kampung Inggris, April 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-6224566673516847954?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/6224566673516847954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=6224566673516847954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6224566673516847954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/6224566673516847954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2008/05/kisah-seorang-kawan-tentang-seorang.html' title='Kisah Seorang Kawan Tentang Seorang Kawan Untuk Kawannya'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-3107591185605948653</id><published>2007-08-19T06:37:00.000+07:00</published><updated>2007-08-19T06:38:28.231+07:00</updated><title type='text'>Cerita yang Tersisa</title><content type='html'>“Aku kira memang sebaiknya kau kembali ke daerahmu. Tak perlu kau teruskan studymu di sini. Kau manfaatkan uang yang kau miliki itu untuk membeli buku sebagai referensi tulisanmu. Tempatmu bukan lagi di student, sudah selayaknya kau terjun ke sektoral membangun basis pemuda, buruh atau tani. Sudah kita yakini bersama sejak dulu bahwa perjuangan tidak tuntas sampai di sini, kawan.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, aku kira memang benar ucapanmu malam itu waktu kita berdiskusi di warung kopi dekat rel kereta depan Graha pena. Kau sungguh tahu dan begitu peduli dengan kondisiku. Ide. Gagasan cemerlang – walau kadang kupikir terlalu naif -- itulah yang aku suka darimu yang selalu lahir dalam diskusi-diskusi kecil yang sering kita lakukan berdua menghabiskan malam. Aku pun tahu dengan posisi dilematismu melihat dinamika kawan-kawan yang lain. Tetapi, itu tak membuat kita mundur selangkah pun. Sudah sekiranya memang aku harus meninggalkan dinamika ini. Seiring gerak materi yang semakin cepat tentunya kita harus berdialektika dengannya. Tidak baik terlalu lama berdiam diri dalam kondisi stagnan yang bisa melumpuhkan kaki kita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Kau usah risau dengan kondisi kita hari ini. Toh kepergianmu kali ini hanya membuat kita berpisah untuk sementara waktu. Kita berpencar untuk menyusun kekuatan dan nantinya kembali menyatu dalam satu barisan kokoh. Walau belum saatnya, tetapi karena kondisi berbicara lain, tak apa kalau kau memulai lebih dulu.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tentu saja. Walau nurani ini berkata lain karena beban psikologis yang tertang gung. Rasa bersalah meninggalkan tugas dan tanggung jawab yang belum bisa terselesaikan. Entah mengapa, hati lebih rela meninggalkan study daripada meletakkan tugas-tugas organisasi dan meninggalkan dinamika ini. Semoga kau tahu apa yang aku rasakan, dan aku kira kau memang tahu. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt;“Jangan berpikir terlalu pragmatis. Aku kira kita bukan tipikal orang yang suka beromantisme dan kita tidak terdidik seperti itu, bukan? Itulah bara yang tak akan pernah padam dalam hati kita. Selalu menyulut dan mengobarkan semangat perlawanan.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ah, dalam kesuraman dan keletihanmu itu, kau tetap saja agitatif mendorongku.&lt;br/&gt;Selalu meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dalam pilihanku dan memaklu mi keadaanku. Andai saja kondisi berkata lain, tentu aku masih belajar dan berdinamika bersama mereka saat ini. Tetapi apa daya jika di sini gaji kerja parttimeku hanya bisa buat makan dan membeli buku tanpa mampu membayar SKS dan biaya praktikum per semester. Beruntung betul mereka semua itu yang masih bisa menikmati bangku akademis. Kadang gumamku dalam hati.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Uang memang bukan perkara yang sepele karena alasan inilah aku terpaksa menghentikan kuliahku. Meninggalkan sementara bangku akademis untuk waktu yang tak aku ketahui sampai kapan bisa aku sambung lagi. Bahkan, perjuangan pun tak luput dari peran uang. Seringkali dalam wisata demokrasi yang aku lakukan bersamanya dan kawan-kawan untuk acara konsolidasi di kota lain atau sekedar solidaritas dalam acara tani dan aksi buruh besar-besaran, terpaksa aku harus tinggal sejenak di kota yang aku singgahi karena masalah finansial, kehabisan logistik. Terpaksa cara pendek yang diambil mencari utangan atau menunggu kiriman uang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Uang memang untuk segala, tetapi tidak segalanya. Jangan pernah dipermain kan oleh uang. Namun yang terpenting, bagaimana kita mempermainkan uang. Dalam masyarakat posmodern sekarang ini, seperti Lyotard bilang, masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas “apa saja boleh”, dan suasana jaman ini adalah suasana kemerosotan. Dan kau tahu kenyataan yang mendasari sikap “apa saja boleh” ini, tak lebih sesungguhnya adalah uang. Paradigma seperti inilah yang mengakomodasi semua aliran, layaknya modal mengakomodasi semua “kebutuhan”. Aku kira begitu pendapatku, kawan.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak perlu naif karena memang seperti itulah sekarang ini. Hanya manusia yang tak punya otak yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Bahkan, para korporat-korporat anjing sialan itu yang tiada hentinya melakukan eksplo itasi, ekspansi dan akumulasi demi keuntungan pribadinya semata. Tak ayal penghisapan manusia atas manusia masih terus bercokol. Dan yang menjadi korban adalah mereka massa rakyat kelas menengah ke bawah. Mereka yang terus-menerus ditindas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Jadi, bagaimana dengan rencanamu sekarang?”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Meninggalkan kota ini. Aku harus mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup, selain terjun ke sektoral, tentunya. Untuk sementara aku akan pergi ke Jakarta belajar berdinamika bersama serikat buruh selama beberapa waktu. Setelah itu aku akan kembali ke daerahku. Tak lupa, sedikit membuat catatan tentang perjalananku selama ini. Siapa tahu ada penerbit yang mau menerima dan bersedia menerbitkannya. Jika tidak, biarlah kelak dia menjadi sebuah karya yang kunikmati pribadi. Tersimpan dan membaur dalam tumpukan buku-buku dan makalah-makalah di lemari kayu sampai berselimut debu dan usang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Seandainya mimpimu itu terwujud, semoga saja kau tidak tenggelam dalam eksistensi diri. Melupakan semua tugas kita yang masih belum selesai.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku masih punya kamu untuk mengingatkanku seandainya lupa dengan peran dan tugasku. Bukankah kita sepakat untuk saling kritik oto kritik?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Aha,...ya, tentu saja. Tak masalah pula jika kau kelak berkarir profesional, tapi jangan hilangkan nuranimu, juga jangan kau lacurkan idealismemu itu.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;O, sepertinya kita bukan seorang ortodoks yang berpikir konservatif, bukan? Kau terlalu tenggelam dalam paradoks pemikiranmu. Atau barangkali kau kekurangan alkohol?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Itu sekedar ketakutanku karena kita rentan dengan watak-watak oportunis.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, ya aku tahu itu. Semoga ketakutanmu tidak menjadi kenyataan buatku. Sungguh perjuangan ini tak semudah yang aku kira. Bukan waktu yang sebentar untuk mewujudkan demokrasi kerakyatan di negeri ini. Kelak kita juga tidak akan tahu siapa yang masih tersisa dan meneruskan langkah revolusioner ini, atau bisa jadi semua tumbang di tengah jalan. Bisa aku, kau, atau kawan-kawan yang lain. Entahlah... &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Akhirnya, kita semua akan dihadapkan pada pilihan gerak masing-masing paska mahasiswa. Entah nantinya akan terjun ke politik profesional atau bergerak bersama buruh atau tani. Seperti halnya pada posisi dilematisku saat ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita berada di persimpangan jalan, kawan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku tidak yakin apakah kita bisa bertemu lagi dalam satu barisan kokoh. Dalam satu garis koordinasi. Seperti yang kau katakan malam itu waktu kita diskusi di warung kopi dekat rel kereta depan Graha Pena. Sedang hari ini aku bukan lagi kawanmu yang dulu. Satu prinsip, satu ideologi, satu gerak dalam satu barisan. Segalanya berubah penuh. Seandainya kau melihatku sekarang aku yakin pandanganmu akan sinis terhadapku. Kau boleh jadi menyebutku oportunis, pelacur intelektual, anjing birokrasi, penjual kemanusiaan, penindas baru dan hal serba busuk lainnya. Aku akan terima itu karena bukan tanpa alasan aku seperti ini. Kelak kau akan lihat dengan matamu sendiri bahwa semua itu penuh kebusukan. Politik, sadar atau tidak membuat kita menjadi picik. Semua berbicara tentang kepentingan masing-masing. Bahkan, banyak diantara kawan-kawan kita yang paska, muncul pertentangan dan eksistensi diri. Tak pernah sekali pun bertemu dalam satu titik. Tidak salah jika Freud bilang, manusia adalah serigala bagi sesamanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk itu aku tinggalkan semuanya tanpa bekas. Persetan kau bilang aku apa. Aku ingin hidup apa adanya. Damai dalam pilihan dan persepsiku. Aku apatis? Bisa jadi, ya. Aku rasa aku cukup lelah untuk meneruskan langkahku dulu. Tidak kuanggap sedikitpun semua itu sia-sia. Karena tidak ada yang sia-sia. Perlu kamu tahu, aku masih percaya revolusi bakal terjadi. Tak lama lagi. Bila tiba waktunya, aku tak tahu dimana peranku saat itu. Mungkin aku akan lebih memilih tenggelam dalam sejarah. Terasing dari kalian. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sekali lagi aku lelah. Cerita ini telah aku tutup.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Surabaya,  2007 &lt;br/&gt;    &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-3107591185605948653?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/3107591185605948653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=3107591185605948653' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/3107591185605948653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/3107591185605948653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2007/08/cerita-yang-tersisa.html' title='Cerita yang Tersisa'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-1547934319246585753</id><published>2007-07-09T23:51:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T23:58:10.939+07:00</updated><title type='text'>Mutiara Pesisir Utara</title><content type='html'>"Mari dik, silahkan masuk", bapak tua itu mempersilahkan aku dan temanku serta beberapa gerombol orang, tampaknya para pemuda kampung ini, masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana. Kami semua baru pulang dari sebuah konsolidasi yang dilakukan di desa Lumbung yang jaraknya kurang lebih 25 kilometer dari desa ini. Perjalanan pulang dari desa Lumbung kami tempuh dengan naik truk bersama para penduduk yang ikut konsolidasi pada malam itu. Ada dua truk yang mengangkut kami. Desa yang aku tuju namanya desa Kapu. Letaknya di pesisir utara Pulau Jawa. Jangan bayangkan bahwa jalan masuk ke desa ini mudah ditempuh. Justru sebaliknya, kondisi jalannya sangat buruk. Banyak lobang di sana-sini yang terpaksa truk yang kami tumpangi harus berhati-hati. Sedikit kesalahan saja bisa berakibat fatal karena di samping jalan adalah jurang terjal. Sangat memprihatinkan dimana infrastruktur jalan menuju desa ini tidak diperhatikan sama sekali oleh pemerintah daerah setempat. Mereka terlalu mementingkan pembangunan di pusat kota. Mengabaikan kepentingan penduduk pinggiran yang sangat jelas mereka juga membutuhkan akses ke kota untuk menjual hasil panen dan kepentingan sosial ekonomi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke desa ini, aku disuguhi dengan pemandangan hutan yang begitu lebat. Malam hari telah membuat suasana hutan ini menjadi tampak garang namun bersahabat. Dia seolah bangga menunjukkan keperkasaannya pada semua makhluk yang ada disekitar dan membuatnya tunduk ketika harus melewatinya. Setelah satu setengah jam berlalu, akhirnya kami pun sampai di desa Kapu. Sebuah perjalanan yang sama melelahkannya dari Jogja - Semarang, bahkan lebih melelahkan. Akhirnya kami semua berkumpul di rumah salah seorang warga yang ikut konsolidasi tadi. Malam ini terasa hening. Angin bertiup lamban penuh irama. Menyapu dan membelai pohon-pohon disekitar. Menimbulkan irama gemerisik yang teratur. Terdengar pula dengan jelas suara kinjeng dan jangkrik yang mencoba berkolaborasi dengan angin malam serta suara burung hantu yang menjadi satu symphoni alam. Sebuah orkestra yang sangat indah. Mengalun pelan dan sesekali menciptakan hentakan. Satu kesatuan bertempo Andante dan allegro. Aku merasa nyaman. Damai. Penuh ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi adik berdua ini namaya siapa dan darimana?" kata bapak tua itu memulai percakapan. " Kan sedari tadi kami semua di sini belum sempat berkenalan dengan sampeyan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Agus, pak" demikian aku memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan saya Anton" sambung temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berdua dari Jogja. Kedatangan kami tak lain adalah ingin mencoba berdinamika bersama para warga di sini. Kami ingin belajar banyak tentang kondisi di kampung ini, pak" begitulah aku mengutarakan maksud kedatangan ku dan temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti sampeyan yang akan membantu kami untuk persiapan acara tani lusa?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, pak" jawab Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nama saya Wiro. Sebenarnya saya bukan kepala kampung di sini. Namun, saya selalu dipercaya untuk mewakili setiap acara di Balai Desa dan acara rembug lainnya untuk menyampaikan aspirasi para warga di sini. Ya, bisa dibilang saya termasuk sesepuh di desa Kapu. Desa pinggiran yang semakin terpinggirkan" begitu penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terpinggirkan bagaimana,pak?"tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami ini sudah miskin dik dan semakin dimiskinkan oleh mereka para penguasa perkebunan ini. Kalau dulu orang menyebutnya para setan desa. Kami yang bodoh ini telah banyak dibodohi oleh sistem".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang pemuda yang duduk di samping kiri pojok ikut bicara. "Kami semua di sini hampir tidak memiliki apa yang seharusnya kami miliki. Harta berharga yang kami miliki tidak jelas statusnya. Harta yang mampu menyambung penghidupan kami. Tanah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar mas" sambung pemuda yang berselubung kain sarung di sebelah kanannya. Walaupun bukan musim penghujan, tapi angin kering malam ini semakin mendinginkan. "Kami di sini banyak yang menjadi petani dan nelayan. Tetapi, tanah kami semakin tergusur oleh perkebunan milik PT. Tanpa tanah mana bisa kami bertani dan disebut petani? Menjadi buruh tani pun tidak jelas kesehariannya. Para pemilik sawah hanya mempekerjakan beberapa orang karena sawah yang mereka miliki juga tidak terlalu luas. Untuk menyambung hidup sebagian diantara warga di sini melaut mencari ikan. Dan sampeyan juga tahu jarak desa ini ke kota bukan? Terkadang kami kesulitan untuk menjual hasil tangkapan ke pasar karena tidak ada transportasi. Akhirnya, kami terpaksa menjual ke tengkulak. Bisa ditebak, harga yang kami terima tidak sepadan dengan biaya melaut. Begitu pula dengan hasil panen pertanian. Tidak jauh beda" jelasnya dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari dulu tanah dan kesejahteraan petani, para nelayan dan buruh selalu menjadi persoalan di negeri ini,pak" ungkapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir belum ada penyelesa ian secara konkrit. Pemerintah yang katanya sedang melakukan revitalisasi pertanian ternyata hasilnya sama saja, belum maksimal. Masih jauh dari apa yang diharapkan. Malah ironisnya mereka tetap saja mengimport beras dengan alasan petani gagal panen yang menjadi legitimasi murahan yang masih dan selalu saja dipakai. Dua hari yang lalu saya mendapat kabar dari seorang kawan di Timur. Dia bilang ada warga di sana yang sedang bersengketa dengan militer gara-gara perebutan tanah. Mereka ingin menuntut pengembalian tanah yang menjadi hak mereka. Tapi apa alhasil? yang mereka dapatkan bukan tanah, melainkan selongsong peluru yang ditembakkan ke warga yang menuntut pengembalian lahan garapan mereka. Akhirnya, perjuangan mereka harus dibayar dengan darah tanpa ada hasil. Sedangkan mereka para militer itu sedang asyik membela diri di depan hukum dan media. Memutarbalikkan fakta seolah mereka tidak berdosa dengan apa yang mereka lakukan. Tak mau disalah kan dan tak mau mengakui kesalahannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yang sedang berkumpul di rumah itu tampak hikmat mengikuti diskusi ini. Begitu pun denganku dan Anton. Inilah kali pertama aku terjun langsung ke massa. Bersinggungan langsung dengan kontradiksi-kontradiksi yang mereka alami dan bertukar wacana dengan mereka. Sungguh sebuah pergerakan materi yang berbeda dengan dinamika mahasiswa. Ah, mahasiswa!. Berapa banyak diantara kau yang peduli dengan kondisi sosial bangsa ini?. Mereka tidak sadar dengan perannya sebagai intelektual muda, sebagai solidarity maker. Mengkritisi kebijakan negara yang hampir semua mengingkari kedaulatan rakyatnya sendiri. Aku merasa malu dengan statusku ini. Pelabelan "Maha" yang semakin kehilangan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini terlalu idealis? Aku kira ini bukan masalah terlalu idealis atau sok idealis atau bahkan tidak idealis. Ini adalah masalah kebenaran. Apakah akan kita ingkari kebenaran sejarah bahwa kemerdekaan di negeri ini adalah juga sumbangsih peranan generasi muda, para intelektual muda pada masa kolonial? Mereka yang terus melakukan perlawanan sampai darah penghabisan. Dan sekarang, apakah kita akan diam saja melihat penjajahan kolonialisme gaya baru, imperialisme gaya baru, neoliberalisme yang nyata-nyata semakin membunuh petani, buruh, nelayan dan masyarakat tertindas lainnya?. Dan kita cuma asyik melakukan perdebatan teoritis di tingkatan akademis tanpa pernah mau terjun langsung bersama mereka massa tertindas!. Ah,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik Agus, dik Anton mari diminum kopinya mumpung masih panas. Ini disambi juga jagung dan ketela rebusnya. Maklum di kampung jadi cuma ada ini beda kalau di kota" kata pak Wiro menawari kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, pak Wiro bisa saja" kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulur, ayo monggo disambi" sambungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggih..."jawab mereka para pemuda dengan serentak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja penuh berjajar jagung dan ketela rebus dalam wadah piring, juga beberapa gelas kopi yang menjadi hidangan pelengkap diskusi. Ada juga tembakau dan kertas lintingan rokok lengkap dengan alat pelinting rokoknya. Rumah ini penuh dengan asap kepul rokok. Lampu penerangannya pun tidak begitu terang. Mirip suasana diskusi tempo dulu ketika tahun ‘60an. Akhirnya, semua mencair penuh keakraban. Beberapa orang masih setia berkumpul dan saling mengobrol. Aku merasakan keintiman yang amat sangat. Kami berdua akhirnya berkenalan satu persatu dengan para pemuda kampung yang ada di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang negara semakin tidak berpihak pada petani. Pemerintah lebih percaya modal dari pada petani untuk mengelola tanah. Mereka tidak percaya perekonomian mandiri oleh petani" giliran Anton mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa mas Anton?" tanya pemuda kampung yang bernama Sumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang isinya sangat jelas akan semakin menyengsarakan petani. Undang-undang ini sangat bertentangan dengan apa yang termaktub dalam UUD ’45 pasal 33 dan Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960. Undang-undang juga ini lebih kejam dari Agrarische Wet yang diberlakukan pada tahun 1870 oleh kolonial Belanda. Dalam UUPMA ini pemerintah akan memberikan fasilitas bagi pemodal berupa HGU selama 95 tahun, HGB selama 80 tahun, dan Hak Pakai selama 70 tahun. Jika dibandingkan dengan Agrarische Wet yang hanya memperbolehkan pemakaian tanah seperti hak erpacht ini selama 75 tahun saja. Benar-benar fantastik!. Dan nantinya petani hanya bisa menjadi buruh tani yang tidak jelas nasibnya. Atau malah semakin terasing di negeri sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astagfirullah..." gumam pak Wiro miris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah selalu memaksa kita untuk mengerti dan mematuhi peratur an perundang-undangan dan hukum. Tetapi, mereka tidak pernah mau mengerti dan peduli dengan apa yang petani rasakan. Terus terang pak, saya semakin tidak percaya dengan birokrasi di negeri ini" sambung Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau memang seperti itu, lantas bagaimana dengan nasib kami, anak cucu kami di masa mendatang? Kami akan semakin miskin dan sengaja dimiskin kan, bukan?" tanya pak Wiro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya begitulah yang terjadi. Namun, kita masih mempunyai harapan untuk merubah kondisi ini. Sudah saatnya para petani membuka kesadaran diri untuk berorganisasi. Menyatukan kekuatan dan melakukan perlawanan. Kita akan sama-sama berjuang, pak!" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang benar apa yang sampeyan katakan" ungkap pak Wiro sambil menghisap rokok di tangan kirinya, "Kami di sini merasakan manfaat yang sangat dalam berorganisasi. Dulunya kami ini bodoh dik, tidak tahu apa yang harus kami lakukan dengan kondisi seperti ini. Sejak kami bergabung dalam ormas tani ini kami mendapat banyak pencerahan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sepakat...!" kata Sumadi tiba-tiba menyela.&lt;br /&gt;"Kita akan satukan kekuatan. Besok pada puncak acara tani, kita akan sampaikan tuntutan kita ke pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus sengketa tanah dan mendesak pemerintah agar memberikan lahan garapan buat petani demi kesejahteraan dan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi rakyat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar...benar...itu yang akan kita perjuangkan!" serentak semua bersepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Landreform, tanah untuk rakyat!" gumamku penuh haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah larut. Dingin yang terasa semakin menembus ke dalam tulang. Diskusi malam itu kami akhiri pada dini hari. Semua orang tampak lelah setelah konsolidasi dari desa Lumbung sejak sore tadi. Ditambah diskusi penghangat suasana yang semakin memantabkan langkah perjuangan kami. Namun, dari mata mereka tetap terpancar api perlawanan yang tak pernah padam. Sudah saatnya mereka melakukan perubahan atas kondisi yang telah lama mereka alami. Mereka harus mengakhiri ketertindasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku belum bisa tidur. Masih terbayang di kepalaku bagaimana semangat perlawanan mereka yang begitu membara. Mereka bangkit dari kontradiksi-kontradiksi yang ada. Tersadarkan dari realitas yang menindas. Seandainya para intelektual muda itu tidak melacurkan keintelekannya, dan mahasiswa yang sedikit peduli dengan kondisi sosialnya. Semua petani, buruh, nelayan dan massa rakyat tertindas lainnya bersatu, niscaya revolusi akan terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh ombak pantai utara terdengar lebam di telinga. Aku mencoba berjalan menuju kearahnya. Tampak para nelayan yang sedang melaut mencari ikan. Lampu putih kapal dikejauhan bagai mutiara di tengah kegelapan laut. Masih terdengar suara jangkrik dan burung hantu yang tetap setia memainkan lembaran-lembaran partitur symphoni alam. Bertempo andante. Terasa tenang. Aku menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cirebon, September 2006&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-1547934319246585753?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/1547934319246585753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=1547934319246585753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/1547934319246585753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/1547934319246585753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2007/07/mutiara-pesisir-utara.html' title='Mutiara Pesisir Utara'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-916765611689840633</id><published>2007-07-09T23:28:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T23:40:49.610+07:00</updated><title type='text'>Dini Benci Sekolah</title><content type='html'>Inilah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Dini. Hari kelulusan. Setelah dua belas tahun lamanya ia lewati penuh kebosanan di sebuah tempat yang namanya sekolah. Sudah lama ia ingin keluar dari tempat itu yang membuatnya merasa seperti terpenjara. Terkekang kebebasannya untuk menikmati dunia yang sebenarnya. Melihat realitas dengan jelas tanpa terkurung dalam keangkuhan tembok tinggi dan terisolasi oleh kurikulum yang membatasi. Mencoba membongkar kebenaran yang banyak tertutupi oleh sebuah doktrinasi lama dengan wajah baru. Muak!. Semua itu memuakkan. Sekolah membuatnya merasa seperti mesin fotokopi yang harus menggandakan dan menyalin sama dengan aslinya. Semakin banyak dibuat dan diedarkan semakin bagus. Layaknya robot mekanik yang terprogram paten untuk menuruti kemauan si pencipta. Menjalankan semua perintah. Tak akan bergerak bila tidak digerakkan. Semakin menurut semakin dielu. Dan segera orang akan memberikan predikat "pintar" dengan murah layaknya barang yang diobral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Ki Hajar Dewantara masih hidup tentu semua akan tampak lain di mata Dini. Dia memang sangat kagum dengan sosok Bapak Pendidikan Indonesia ini. Dia belajar banyak tentang biografi dan filosofi pemikirannya dari beberapa buku koleksi di perpustakaan pribadi milik kakeknya yang dia baca. Dia ingin sekali bersinggungan langsung, diajar dan menimba ilmu pada sosok Ki Hajar Dewantara yang lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Menikmati bagaimana rasanya bersekolah di Taman Siswa. Namun sayang Tuhan mengha dirkanya di dunia lewat rahim sang ibu di jaman dimana segala sesuatu ditentu kan oleh uang. Akhirnya, ia hanya bisa mendengar cerita tentang kejayaan pendidikan di negeri ini dari mulut sang kakek yang dulu pernah menikmati suasana sekolah di Taman Siswa dan dari buku-buku kusam yang masih tersimpan rapi di rak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun yang lalu kondisinya sungguh berbeda dengan Dini yang sekarang. Dini kecil selalu senang jika pagi tiba. Waktunya untuk pergi ke sekolah. Segera saja ia mulai hari paginya dengan mandi, berseragam, mempersiapkan perlengkapan sekolah—dan tak lupa dengan kebiasaan kecilnya—berdiri di depan cermin sambil tersenyum manis. Tampak mungil dan menggemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda, ada yang kurang?" tanya Dini. Sang ibu hanya tersipu melihat tingkah Dini yang tak henti-hentinya bercermin. Melihat apa yang kurang pada penampilannya pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah cantik sayang. Bunda yakin Sang Matahari pasti tersenyum meli hat Dini dan menyapa, selamat pagi Dini...pagi ini kamu terlihat cantik dan ceria. Lalu bunga-bunga di taman juga tak ingin ketinggalan menyapa langkah mu pergi ke sekolah. Dini cantik...Dini cantik..." begitulah sang ibu selalu meng hibur Dini sebelum dia berangkat ke sekolah. Dini sangat senang dipuji dan ciuman hangat sang ibu menjadi semangat hari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semua berjalan jauh dari impian. Dini yang dulu mengira bahwa sekolah akan melatihnya berfikir kritis, guru yang kata bunda adalah teman yang ramah dan selalu membantu memecahkan masalah, sekolah yang kata kakek adalah tempat yang bebas untuk berkreasi, mengasah kemampuan diri serta bebas untuk mengungkapkan pendapat ternyata tidak sepenuhnya benar. Fakta yang dia lihat jauh dari apa yang dikatakan oleh bunda dan kakek. Apakah bunda dan kakek berbohong? Tidak. Tidak mungkin bunda dan kakek berbohong sama Dini. Ataukah sekolah yang berbohong? Ketika diluar sana dia ingin menunjukkan bahwa di tempat inilah akan lahir para tunas-tunas bangsa yang berbudi luhur, bermoral, pintar dan embel-embel kebaikan lainnya, tetapi di dalamnya menyimpan banyak borok yang tertutupi oleh kemegahan gedung yang angkuh berdiri. Ini semua berbeda dengan apa yang pernah diceritakan oleh kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kakek pernah bercerita bahwa ketika bersekolah di Taman Siswa, sekolah mendidik para murid untuk berani, berkarakter kuat, tidak pengecut, tidak bermental seperti budak, memerdekakan peserta didik dari pikiran yang penuh prasangka dan mengajarkan bagaimana menghidupkan nilai-nilai ideal dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan ayah, dulu ayah pernah memberi nasehat Dini bahwa hakekat pendidikan adalah untuk membebaskan, memanusiakan manusia dari belenggu ketertindasan. Belajar bukan hanya mengkonsumsi ide, tetapi terus-menerus menciptakan ide dan semua orang adalah guru serta setiap tempat adalah sekolah. Itulah hakekat pendidikan yang sebenarnya. Begitulah petuah terakhirnya pada Dini. Apakah semua itu omong kosong?karena pada kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya. Sekolah menjadikan Dini berfikir dogmatis, guru adalah penguasa kelas yang harus selalu digugu dan ditiru, sekolah menghambatnya dalam proses berkreasi, me ngekang kebebasannya untuk menentukan pilihan. Parahnya lagi sekolah membuatnya jauh dari realitas yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, hari senin yang bakal membosankan" gumamnya. "Aku benci upacara bendera. Aku bosan dengan bualan PPKN. Aku malas mendengar omong kosong sejarah yang telah direkayasa oleh penguasa. Aku benci berhitung matematika. Aku ingin membaca koran saja di Perpustakaan. Menikmati karya sastra para pujangga negeri ini sambil sedikit selingan membaca majalah-majalah remaja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca menjadi kebiasaan semenjak Dini kelas dua SMP. Koran, novel, majalah, komik adalah nutrisi kecerdasan otaknya setiap hari. Kegemarannya membaca tak luput dari dorongan sang ayah yang kini tidak jelas nasibnya. Ayahnya diculik sejak peristiwa Reformasi’98 di negeri ini bergulir. Dini menyimpan dendam yang amat sangat pada para birokrat yang sampai detik ini tak kunjung selesai mengungkap siapa pelaku yang telah menculik ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Dini sang ayah adalah pahlawan. Seorang pujangga yang karyanya lebih mematikan dari AK-47 sehingga membuat penguasa geram ketika membaca karya-karyanya. Akibat semua itu, tak terhitung lagi banyaknya teror dari orang-orang hitam—karena pakaian mereka serba hitam—yang menyerang keluarganya. Mengganggu waktu bermain Dini di taman belakang rumah, membuatnya menangis di malam hari karena ada saja tingkah orang-orang hitam itu. Dini takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anjing...! mau apalagi bajingan-bajingan itu?" geram ayahnya suatu malam. Di depan jendela kaca rumah sudah tidak jelas lagi rupanya. Pecah berantakan akibat lemparan batu dan botol api yang membuat korden jendela habis terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey kalian..! Bangsat..! bilang pada pemimpin kalian, langkahku tidak akan berhenti...bajingan!". Orang-orang hitam itu keburu pergi setelah melempari rumah dan meninggalkan surat kaleng tanpa mendengar teriakannya.&lt;br /&gt;Dini yang ketakutan dan menangis tersedu akhirnya kembali merasa tenang ketika sang ibu duduk di sampingnya. Memeluknya erat. Membelai dini penuh kasih sayang. Meyakinkannya untuk tidak kalut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda Dini takut" rengek Dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan takut sayang, bunda di sini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda sampai kapan orang-orang hitam itu akan terus mengganggu kita?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda tidak tahu sayang...bunda tidak tahu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air menetes pelan dari katup matanya yang pucat. Membasahi kedua pipinya. Ia menangis. Di dalam hati ia cuma bisa berdoa; Tuhan lindungilah keluarga kami.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi kelulusan akan diumumkan. Rasa tegang, gembira bercampur aduk menciptakan nuansa rasa yang lain. Teman-teman Dini mulai banyak yang gusar. Ada juga diantaranya yang duduk berkelompok hanya bisa diam, pasrah menerima apapun hasilnya, sambil mulutnya berkomat-kamit dan matanya yang sebentar-bentar berkedip, memejam, membuka, mirip seorang hamba Tuhan yang sedang melakukan pengakuan dosa di malam menjelang Paskah. Lalu ada diantaranya geng berjilbab yang saling berpegang tangan dengan erat. Khusyuk membaca Al-Fatehah, Sholawat nabi dan tak henti-hentinya bertasbih memohon pada Sang Khalik agar dikabulkan doanya supaya bisa lulus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Di luar tak kalah serunya, aksi corat-coret baju sudah dimulai. Dini heran kenapa masih saja budaya seperti ini dilestarikan, dari jamannya si Boy, Lupus, sampai jaman anak MTV "gue banget" sekarang ini. Setelah itu arak-arakkan liar keliling kota dengan motor pun dilakukan. Mereka tenggelam dalam kesena ngan yang datang sekali seumur hidup. Mereka tidak peduli apakah mereka akan lulus atau tidak. Itu urusan belakang. Sungguh naif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Galang tiba-tiba. Mengagetkan Dini yang sedari tadi hanya diam di Perpustakaan membaca novel Matu Mona; Pacar Merah Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Mmm...kelihatannya menarik. Coba aku lihat" pinta Galang sambil melihat sampul depan dan membaca judulnya. "Novel perlawanan lagi ya?" tanyanya bersahaja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dini hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Galang adalah teman Dini yang paling tahu kondisi Dini. Dia adalah teman diskusi yang sedikit mampu mengimbangi Dini dan tak pernah bosan ketika mendengar Dini berargumen. Dini sangat suka berdiskusi dengan Galang. Begitu pun sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kenapa ke sini? Bukannya bergabung sama teman-teman yang lain?" balik Dini bertanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Mau diskusi sama si perempuan api saja. Lebih menantang, lebih berbobot dan lebih menyenangkan. Kalau aku bergabung sama mereka kesannya biasa saja. Ini adalah momen terakhirku untuk ketemu dan berdiskusi sama kamu. Karena aku tidak yakin setelah lulus nanti apakah aku bisa bertemu lagi sama perempuan liar kayak kamu. Pasti sebentar lagi kamu akan kembali ke semesta pemikiranmu, mencari tempat dimana kamu akan merasa nyaman disana kelak. Dan aku akan menjadi puing berdebu yang bakal hilang dari memori ingatanmu."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Anjing...! baru kali ini aku mendengar kamu ngomong seperti itu. Nggak biasanya" tanya Dini heran.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Ya kamulah emang siapa lagi? Gara-gara kamu Din aku bisa seperti ini. Benar-benar diriku yang sebenarnya". Mereka kemudian tertawa bersama. Ini menjadi sebuah kenangan yang kelak bakal terlupakan oleh masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Yang mana?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Di awal tadi ?!"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Ooo...aku tidak tahu, Lang. Cuma satu yang pasti, aku tidak akan kuliah. Aku benci sekolah".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Galang benar-benar terhanyut dalam pesona Dini yang mempunyai karakter begitu kuat. Sosok perempuan remaja yang sangat tegar. Ia menatapnya dalam-dalam. Mencoba mengarungi sungai deras yang ada dalam diri perempuan di depannya. Galang kagum dengan sorot matanya yang penuh perlawanan, namun dibalik itu semua tetap memancarkan keramahan bagi siapa saja yang datang dan menimbulkan kesejukan di dasar retina yang paling dalam. Wajah cantiknya penuh kelembutan, tetapi tertutupi oleh luka kemarahan yang samar terlihat dan sangat sulit dihilangkan. Sebuah luka dari keadaan yang menyakitkan. Bibirnya seperti anggur merah yang dipanen pada musim panas. Menggoda setiap orang untuk mencicipinya. Galang semakin termabukkan. Ia jatuh cinta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dini merasa aneh dengan tatapan Galang. Dia merasa gusar. Benar-benar tidak seperti biasanya Galang hari ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Hoi...kamu kenapa?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Ah..!" tiba-tiba Galang jadi salah tingkah. Lamunannya buyar. "Tidak. Tidak ada apa-apa kok. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Cuma...kamu kelihatan cantik dari biasanya" jawab Galang sambil tersipu malu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu baru sadar?! udah dari sananya monyet!" jawab Dini sekenanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Eh, kelihatannya mau diumumkan, ke sana yuk" ajak Galang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Yuk.."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan meninggalkan ruang perpustakaan. Bergabung dengan te man-teman yang lain yang menunggu pengumuman kelulusan yang sebentar lagi diumumkan. Mereka berdua dinyatakan lulus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Dini merasa bahagia. Ia telah bebas dari sekolah. Dia tidak per lu lagi bangun lebih awal, bergegas mandi, berseragam, mempersiapkan perleng kapan sekolah – dan melakukan kebiasaan kecilnya—berdiri di depan cermin sambil tersenyum manis. Matahari pagi tidak akan lagi menyapanya dan bunga-bunga di taman hanya tertunduk diam sesekali disapu oleh angin. Kini semua itu sudah mati. Dini mulai membuka catatan hariannya dan mulai menulis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayah...Bunda...apa kabar kalian di sana? Pasti tentunya sangat bahagia di Taman Firdaus berteman peri-peri dan malaikat kecil yang senantiasa menemani dan menghibur kalian. Ada kabar bahagia yang ingin Dini sampaikan. Dini telah lulus sekolah. Dini telah keluar dari penjara yang namanya sekolah. Barangkali setelah ini Dini mau menyusul kak Dewa dan belajar bersama para buruh di sana. Belajar dengan realitas yang sebenarnya. Seperti apa yang ayah ajarkan selama ini.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Percuma saja kamu pintar sedang banyak diantaramu yang bodoh karena tidak bisa sekolah. Percuma saja kamu kenyang sedang banyak diantaramu yang kelaparan karena beras semakin mahal. Semua akan sia-sia jika kamu hanya diam melihat kemiskinan. Hidupmu akan bermakna jika kamu memberikan makna untuk orang lain. Berpeganglah pada kebenaran dan nilai-nilai keadilan. Belajarlah pada semesta agar kau semakin dewasa."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat itu akan selalu aku ingat....&lt;br /&gt;Aku sayang kalian...&lt;br /&gt;Selamat malam...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kediri, Mei 2007&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-916765611689840633?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/916765611689840633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=916765611689840633' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/916765611689840633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/916765611689840633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2007/07/dini-benci-sekolah.html' title='Dini Benci Sekolah'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29530872.post-117524308350549799</id><published>2007-03-30T16:12:00.000+07:00</published><updated>2007-03-30T16:24:43.536+07:00</updated><title type='text'>Memandang Lintang</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Jangan harapkan lagi..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Selamanya..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;             Bisikan itu semakin kuat menyelimutimu. Mengganggu tidur malammu. Membuatmu tampak semakin resah. Semakin kuat lagi. Semakin kencang. Dan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tidak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku tidak bisa!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku tidak bisa melupakannya. Aku tidak ingin melupakannya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku terlalu sayang kepadanya. Tolong jangan paksa aku. Tolong jangan…!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tiba-tiba suara handphone membuatmu terbangun dengan sergap. Satu pesan diterima. Dengan mata yang masih belum bisa berkompromi dengan pagi, kau paksakan jemarimu untuk membuka pesan itu. Dan seperti biasa, pesan ramalan bintang selalu menyambutmu tiap pagi. Ramalan pagi ini membuatmu terbelalak. Terkejut. Diam dan sedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Anda tampaknya tak bisa lepas dari bayang-bayang dirinya. Tapi cinta anda bertepuk sebelah tangan, si dia sudah semakin jauh dari jangkauan anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tak terasa air matamu menetes ketika kau baca pesan itu. Baru kali ini kau merasa cengeng terhadap dirimu sendiri. Cengeng karena sesuatu hal yang selama ini kau abaikan. Tak pernah mau kau rasakan, padahal dalam lubuk hati kecilmu menginginkannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kau terlalu munafik terhadap perasaanmu sendiri. Tak pernah mau berkompromi dengan rasa cinta dan keterikatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Akhirnya, ketika rasa itu datang ia tak mau berkompromi denganmu. Meninggalkanmu bersama idealisme yang kau bawa. Dan terlambat untuk menyesal. Semua telah hilang, tetapi apa yang masih tersisa dari seseorang yang telah kehilangan segalanya selain harapan. Berharap suatu saat kau bertemu kembali dengannya, dan ketika masa itu tiba kau akan tersenyum lagi, menanyakan apakah masih ada ruang buatmu di hatinya. Sebuah harapan terakhir yang menjadi semangat hidupmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lelaki itu berdiri seorang diri di depan deretan pot-pot bunga yang sore itu memang sengaja di pamerkan ke pengunjung pameran bunga yang datang. Tangannya sibuk menekan tombol handphone yang dibawanya, entah sedang sms atau sekedar menghibur diri menghilangkan kebosanan. Penampilannya sederhana tidak terlalu mencolok, berjumper merah dengan perpaduan blue jeans kombor, bergaya casual dan tampak low profile. Dia menunggu kedata- ngan seseorang yang dia kenal lewat dunia cyber lalu berlanjut lewat telepon dan sms. Seseorang yang ditunggu itu adalah kamu. Ya, dia dengan sabar menunggu kedatanganmu. Seorang Adam yang menantikan kedatangan Adam. Lelaki yang kelak banyak merubah hidupmu, menyadarkanmu dan banyak mengajarimu tentang bagaimana mencintai dan dicintai dengan sederhana. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Hey, sudah lama menunggu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Nggak juga “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Ayo ke kosku, nggak asyik ngobrol di sini “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lelaki itu mengangguk tanda setuju. Sebuah percakapan singkat dan tanpa basa-basi. Lelaki itu banyak diam, tetapi tidak gelisah, sangat bertolak belakang denganmu. Rasa khawatir selalu mendekapmu di setiap perkenalan seperti ini. Sangsi yang selalu ada ketika kamu berkenalan dengan seorang lelaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;....................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Keinginan akan sebuah hubungan yang tidak lazim di mata masyarakat; melanggar kodrat dan hukum alam. Tentu tidak semua orang menginginkan seperti ini termasuk kamu. Tetapi apa dayamu? -- sebab Tuhan telah berkata &lt;i style=""&gt;kun faya kun, &lt;/i&gt;walaupun dalam firman-Nya dia telah melarang, namun Dia adalah dzat yang masih menyimpan banyak rahasia kehidupan. Rahasia dari segala rahasia hukum alam. Tak ada satupun manusia yang mampu membuka tabir rahasia itu -- kamu tidak bisa menutupi perasaanmu ini. Perasaan yang tumbuh ketika kau masih kecil dan selalu kau tutup rapat sampai suatu saat dimana kau tak bisa membendungnya lagi. Kau telah berontak pada kodrat itu sendiri. Keluar dari lingkar norma normatif. Di luar hukum alam yang terbangun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rasa takutmu semakin memuncak. Kau takut pertemuan ini hanya selayang pandang, one night stand, dan berujung ML di ranjang tanpa ada rasa yang berbekas di hati, cuma kepuasan nafsu semata. Kau pun muak dengan kondisi seperti ini. Sebuah kondisi yang semakin memperkuat persepsi masyarakat bahwa duniamu -- dunia orang-orang yang menyukai sesama jenis -- adalah dunia yang berisi orang-orang sakit, abnormal, pengobral nafsu, orang-orang murahan yang hanya bisa bilang cinta dan sayang jika kelaminnya sudah bersentuhan, penisnya dihisap, vaginanya ter-penetrasi dan anusnya disodomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semua itu tidak benar! Kebohongan yang dijadikan kebenaran oleh orang-orang yang mengklaim dirinya benar, normal, dan bermoral. Pandangan yang sudah saatnya di bumi hanguskan. Kamu ingin membuktikan rasa cinta dan sayang yang tulus ada di hati orang-orang yang menyukai sesama jenis. Kebenaran cinta dan sayang tidak hanya milik seorang Adam yang mencintai Hawa, tetapi juga milik seorang Adam yang mencintai Adam dan seorang Hawa yang mencintai Hawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;....................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Orang-orang terdekatmu tahu dengan kondisimu seperti ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Tidak. Aku sendiri tidak mau menceritakan ke mereka. Aku belum siap kehilangan mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“ Aku jadi teringat dengan kata-kata orang bijak yang berbicara dengan bijaksananya, seorang seniman yang bermain dengan karya seninya dan seorang sastrawan yang selalu jujur dalam tulisannya, bahwa hidup adalah pilihan tetapi tidak semata pilihan. Semuanya ada sebab-akibat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Maksud kamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Ya, bagi aku ketika kita telah memilih hidup seperti ini kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada nantinya. Karena orang di negeri ini belum banyak yang bisa menerima dengan pilihan hidup orang-orang seperti kita. Negeri yang katanya demokrasi tetapi masyarakatnya belum bisa menghargai perbedaan; masih memandang sebelah mata. Terlau picik atau entah terlalu dogmatis oleh suatu ajaran.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Malam pun datang semakin larut menemani kalian yang hanyut dalam obrolan. Tampak cerah langit malam itu dan lintang malam menjadi hiasan sepasang Adam yang mencoba mengenal satu sama lain. Awal dari sebuah hubungan yang akan terjalin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;....................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Aku takut “ katamu suatu waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Takut kenapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Di satu sisi orang akan melecehkan hubungan kita, memandang sinis dengan penuh rasa jijik, dan sisi lain aku juga takut jika suatu saat aku akan kehilangan kamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Aku nggak begitu peduli dengan pandangan mereka. Biarkan saja mereka menilai sekehendaknya karena rasa ini hanya kita yang tahu. Toh kita tidak merugikan mereka. Aku kasih tahu ke kamu, setiap orang yang lewat dalam hidupmu selalu menyisakan jejak kaki dalam hatimu. Kadang jejaknya jelas kadang samar. Dan kamu memijakkkan kakimu terlalu keras, menyisakan jejak terlalu jelas. Kadang itu sakit, tapi itu menempaku untuk lebih kuat. Jejakmu terlalu jelas untuk dihapus dan serasa enggan aku untuk menghapus-nya. Aku sayang kamu. Aku nggak akan lupain kamu. Kamu orang yang telah merubah hidupku. Mengisi hari-hariku dengan rasa sayangmu. Aku terkadang juga berpikir seperti itu. Takut kehilangan kamu. Takut dilupakan. Dan kamu lihat lintang itu, lintang malam yang selalu menemani dan menghiasi setiap obrolan kita menghabiskan malam...biarkan aku jadi lintangmu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kata-katanya membuatmu terkagum dan tersenyum haru mendengar nya. Baru kali ini kau mendengar sebuah kata-kata yang tidak hanya terucap lewat mulut, tetapi juga dari dasar hati seorang lelaki pendiam yang selama ini kau sayang, yang kepadanyalah kau sandarkan hatimu. Malam itu terasa hening dan dingin, tetapi tidak bagimu. Kau merasakan kehangatan, membuat mu tenang dan terasa nyaman dalam dekapannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dia tersenyum memandang- mu dan memberikan ciuman manis di keningmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Aku sayang kamu.” katanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“ Begitu juga aku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Entah siapa yang memulai, bibir kalian pun bertemu. Sebuah ciuman hangat dan mesra. Cukup lama. Dan kini kalian semakin yakin tentang hubu-ngan ini, sambil berpelukan erat seolah tak mau berpisah dan dipisahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33.75pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Jangan harapkan lagi..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Selamanya..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bisikan itu semakin kuat menyelimutimu. Mengganggu tidur malam mu. Membuatmu tampak semakin resah. Semakin kuat lagi. Semakin kencang. Dan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tidak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku tidak bisa!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku tidak bisa melupakannya. Aku tidak ingin melupakannya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku terlalu sayang kepadanya. Tolong jangan paksa aku. Tolong jangan…!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kini semua tinggal masa lalu. Sebuah mimpi yang pernah kau bangun dalam hidupmu, yang banyak mengajarimu tentang bagaimana mencintai dan dicintai. Sebuah mimpi yang selalu menjadi semangat dan imajinasi tiap jengkal langkahmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ayah kok belum tidur?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Belum mengantuk, Ma. Mama tidur duluan saja nanti ayah menyusul.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Malam ini lintang tidak menampakkan wajah lembutnya, yang selalu memberimu kehangatan melewati malam dan selalu menghiasi malammu tampak indah tiap kali kau memandangnya. Menemani kesendirianmu yang terasa sepi dan dingin. Dia tertutup mendung. Entah sampai kapan. Dan kau hanya bisa berharap mendung segera pergi agar kau bisa melihatnya lagi. Sambil tersenyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 40pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Jangan harapkan lagi..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Lupakan dia..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Selamanya..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Balai Riam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Februari 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29530872-117524308350549799?l=bungkapit21sastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/feeds/117524308350549799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29530872&amp;postID=117524308350549799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/117524308350549799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29530872/posts/default/117524308350549799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21sastra.blogspot.com/2007/03/memandang-lintang.html' title='Memandang Lintang'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
