Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

23 August 2008

Senyum dalam Lamunan

Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo


Untukmu”, dua lembar uang lima puluh ribuan itu diberikannya kepadaku. Aku terima uang itu tanpa banyak kata. Hanya ucapan terima kasih, itupun lirih kuucapkan. Sudah lama sekali aku tak pernah datang ke rumah ini. Rumah ayahku. Rumah keluarga barunya. Istri baru, anak-anak baru, suasana baru, kehidupan serba baru. Ah, betapa bahagianya ayahku saat ini. Semoga masa lalunya bisa terkubur pelan-pelan.


Aku masih saja mematung dalam dudukku. Aku merasa asing. Dan memang, perasaan ini selalu saja hadir tiap kali aku datang ke rumah ini, seperti tahun lalu. Sekarang rumah ini sungguh berbeda. Banyak renovasi di sana-sini. Rumah ini tersulap menjadi rumah modern. Semakin nyaman dihuni. Sungguh berbeda dengan rumah warisan gono-gini yang kami tempati. Namun, tetap saja aku merasa asing. Asing di rumah ini. Asing dengan keluarga baru ayahku. Bahkan, asing dengan ayahku sendiri.


Kau kemana saja tak pernah kelihatan?”, suara seorang perempuan berseloroh dari dalam kamar sambil melihat TV. Istri baru ayahku. Aku cukup terkaget. Lamunanku membuyar.


Lagi sibuk kerja”, jawabku singkat. Tidak ada dialog lagi. Suasana kembali hening. Seandainya keponakanku tidak sakit, tentu aku tak akan mau disuruh kakakku mengantar titipan ini. Kakakku tahu bahwa aku enggan ke rumah ini. Bertemu ayah, bertemu keluarga baru ayah. Kakakku mengiba dan aku tak bisa menolaknya.


Aku ingin cepat-cepat pulang. Aku sudah tidak mampu lagi berlama-lama di rumah ini. Aku sungguh tersiksa. Tersiksa dengan segala beban-beban dan dosa-dosa masa lalu. Entah kenapa setiap kali aku bertemu dengan ayahku di rumah ini, beban-beban dan dosa-dosa itu selalu saja muncul dalam anganku. Itulah salah satu sebab kenapa dari dulu – bahkan sekarang – aku tak pernah mau dekat dengan ayah.


Amanah kakakku sudah aku sampaikan. Aku mencari-cari alasan untuk segera pulang. “Saya pamit, soalnya mau kerja. Masuk malam”, kataku berbohong. Ayah hanya diam tanpa banyak kata. Ia terus saja menatapku. Tak kutahu sedikitpun makna tatapan itu. Aku merasa dilema penuh kenaifan. Sungguh aku tak mampu berlama-lama lagi. Tanpa basa-basi lagi segera kuhidupkan motor lalu pergi meninggalkan rumah ini. Aku merasa lega. Namun, aku masih saja melamun...

***

Orang tua itu masih saja melamun dalam duduknya, di teras depan rumah, hampir saban sore menjelang magrib. Kebetulan, akhir-akhir ini senja selalu tampak indah. Merona merah dan sesekali jingga. Kebetulan juga orang tua itu sangat senang menikmati senja. Sudah lama sekali keinginannya untuk kembali ke kampung dipendamnya. Hidup di kota tak lagi menawarkan kedamaian dan kenyamanan. Ia tak pernah merasakan ketenangan. Yang ada hanyalah memburu dan diburu. Ia ingin sekali ketika pensiun nanti kembali bertani. Mengelola beberapa petak sawah yang dimiliki. Sungguh, suatu hal yang telah lama sekali tak pernah ia lakukan semenjak ia bekerja sebagai PNS. Meluangkan waktu lebih banyak untuk keluarga. Tak lupa, banyak berserah diri pada sang Khalik, di ujung usianya kini yang semakin larut. Angannya semburat tentang masa lampau, kini, dan hari depan.


Untuk keluarga? Keluarga yang mana? Ia mempunyai dua keluarga sekarang. Keluarga dengan empat orang anak dari pernikahan pertamanya yang kandas dan keluarga dengan dua orang anak dari pernikahan kedua. Ia bingung. Ingin rasanya berlaku adil buat semua. Tapi bukankah manusia tak pernah bisa adil. Ia hanya bisa berusaha untuk berbuat adil. Ah, ia terlalu lelah untuk berfikir. Ia terlalu tua untuk merubah. Biarlah semua berjalan atas kehendak sang Khalik. Satu hal yang paling ia inginkan saat ini, jangan sampai trauma masa lalu itu kembali berulang. Ia ingin hidup dalam keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Hingga kelak ajal mulai menjemput. Sebuah mimpi yang begitu indah.


Setiap malam pun ia tak pernah lelah untuk bertafakur memohon pada sang Khalik agar anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang berhasil. Berhasil dalam urusan dunia, berhasil pula dalam urusan akhirat. Dan hampir disetiap perenungannya, ia selalu bertanya, sudahkah ia menjadi sosok ayah yang baik bagi anak-anaknya? Benarkah selama ini ia terlalu egois memaksakan kehendaknya? Sebuah pertanyaan yang cukup mengusik. Ah, ia rasa ia tidak seperti itu. Tetapi bagaimana ia bisa menilai diri sendiri jika orang lain tak pernah berkata tentang dirinya? Apakah penilaian diri saja sudah cukup bijak dalam menilai tentang suatu hal?


Aku ingin anak-anakku tahu hikmah di balik ini semua?” benaknya berkata, “Bukankah selama ini aku juga memberikan mereka kebebasan dalam memilih? Aku cukup mengerti mereka ingin mandiri tanpa campur tanganku, tetapi aku ayahnya. Kenapa tak satu pun diantara mereka yang mau mengerti bahwa selama ini aku bergelut dengan kegelisahan-kegelisahan akan pilihan mereka. Setidaknya mereka mau berkata apa pilihan-pilihan itu. Agar aku cukup tenang.”

***

Aku pun tidak pernah tahu kenapa setiap kali berdekatan dengan ayah aku tak pernah bisa berkata apa-apa. Aku selalu merasakan seolah ada jarak, jarak yang begitu jauh. Memang, diantara saudara-suadaraku, hanya aku yang tak mampu menghadapi ayah. Aku selalu menghindar bila ayah berkunjung ke rumah kami. Paling kalaupun terpaksa bertatap muka aku sekedar basa-basi di depannya. Benar-benar terlihat bodoh.


Hingga pernah suatu kali aku merasakan bahwa dia bukan ayahku dan aku bukanlah anaknya. Masing-masing adalah dirinya sendiri. Masing-masing adalah orang lain. Orang dengan pilihan-pilihan dan jalan hidup sendiri-sendiri. Kadangkala aku pun merasa benci kepada ayah. Dan di dalam kebencianku tadi, entah mengapa aku selalu menangis meratapinya. Sesekali pula ingin rasanya kutampar mukanya agar dia sadar bagaimana selama ini dia bersikap terhadap anaknya. Amarahku sudah memuncak!


Namun, semua itu tetap saja terbantahkan. Aku tetap anaknya dan dia adalah ayahku.


Dulu ketika aku masih remaja, ada satu kenangan busuk yang tak bisa aku lupakan. Aku berangan bisa berbuka puasa bersama ayahku. Sampai kemudian dengan susah payah aku belajar memasak bali telur juga kolak pisang untuk hidangan berbuka. Aku berharap dia berbuka denganku lalu shalat magrib dan tarawih berjamaah. Di saat-saat seperti itu kunantikan sebuah sungging senyum di bibirnya dan berkata,”Kau memang hebat.” Namun sungguh sayang, dia lebih memilih untuk berbuka di rumah istrinya.


O, bila aku mengingatnya, aku benar-benar tolol waktu itu. Barangkali aku terlalu banyak menonton kisah-kisah dramatis penuh kebodohan ala sinetron. Dan tentu saja, kebahagian tak pernah selalu berpihak pada tokoh yang menderita. Kemudian aku baru sadar, ternyata tuhan pun suka bercanda.

***

Apa gunanya pula ia harus marah-marah agar anaknya mengikuti kemauannya, toh mereka semua sudah dewasa. Sudah mampu berfikir dan menentukan pilihan mereka masing-masing. Dan diantara keempat anaknya itu, hanya si ragil yang masih menjadi buah pikirannya. Dialah yang banyak mewarisi sifat-sifat ibunya. Dari malapetaka perceraian itu, ia tahu, anaknya yang terakhir itulah yang merasa paling terpukul dibanding kakak-kakaknya. Ia sudah lama sadar, bahwa kelak si ragil akan menjadi sosok yang lain. Sosok perasa, sosok pemberang, juga sosok pemaaf.


Ah, di usianya yang semakin tua ini, ia ingin berdamai dengan keadaan. Ia ingin hidup dalam keharmonisan. Biarlah semua berjalan apa adanya. Tentu Tuhan punya maksud tersendiri.


Dan orang tua itu sungguh bahagia saat ini. Kedatangan si ragil begitu mengobati kerinduannya. Kerinduan yang begitu lama terpendam. Rasanya kegelisahan-kegelisahan dalam benak hilang sudah. Barangkali ia tak perlu lagi merasa takut dengan pilihan-pilihan anaknya. Karena ia semakin yakin, yakin dengan sepenuh hati dengan pilihan mereka


Jaman begitu cepat beralih. Dan orang tua itu semakin tahu, benar kiranya bila setiap jaman akan melahirkan anak jaman.


Ia terhentak, bangun dari lamunannya sedari tadi, ada sesuatu yang terlupakan, “Oiya, bagaimana kabar cucuku sekarang? Aku akan menelponnya.” Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Senyum kebahagiaan yang jarang diketahui oleh anak-anaknya...

***

Aku masih saja terdiam dan hanyut dalam lamunanku. Aku masih mengingat uang pemberian ayahku tadi. Bukan soal jumlah yang diberikan, tetapi perhatiannya yang saat ini menyita pikiranku. Hal inilah yang membuat aku dilema. Di satu sisi aku begitu marah dan tak begitu peduli. Di sisi lain aku tak kuasa menampik perhatiannya. Karena jujur aku masih butuh perhatiannya. Kadangkala aku pun begitu merindukan kasih sayangnya. Ah, ayah memang tak bisa ditebak.


Barangkali selama ini aku memang terlalu merasa hebat. Barangkali juga dosa-dosa masa lalu yang membuatku terlalu berpikir picik terhadap ayah. Sepertinya aku harus lebih dewasa menilai sesuatu. Aku harus belajar untuk memaafkan dosa-dosa itu. Bukankah selama ini aku juga banyak berdosa pada ayah? Ourgh,...


Entah mengapa tiba-tiba saja aku tersenyum. Tersenyum mengingat segala keceriaan-keceriaan yang pernah aku alami bersama ayah. Itulah saat-aat terakhir aku lihat ayah tersenyum. Rasanya lama sekali. Sangat lama. Aku masih terus melamun...



Kampung Jambu, Agustus 2008

Katup Mata Mak

Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo


Kali ini kuberanikan untuk menatap mata Mak dalam-dalam. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya seumur hidupku. Sungguh aku merasa tanpa daya melihatnya. Sampai hari ini aku belum sanggup membuat Mak bahagia. Maafkan aku Mak, aku berjanji suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakanmu. Aku menangis dalam hati. Mak pun akhirnya tertidur...


Aku mulai tenang melihat Mak tidur. Paling tidak bebanku berkurang. Dan sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah yang tak kunjung ada jalan keluar dia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi kerasnya hidup membuat Mak harus bertahan. Semua harus dihadapi. Semua harus dijalani. Mak terus tegar. Mak selalu sabar. Itu yang aku bangga dari Mak.


Kulangkahkan kakiku pelan keluar rumah. Malam ini dingin luar biasa. Di atas bulan tampak bulat sebulat-bulatnya dengan sinar peraknya yang begitu terang menerangi. Menyenangkan untuk dinikmati. Kusempatkan menengok gubuk tempat tinggal kami. Aku berpikir sejenak, kapan aku bisa membuatkan rumah gedung buat Mak? Rumah yang lebih nyaman untuk dihuni. Tidak bocor saat hujan. Tidak lembab bau lumpur. Tampak bagus dan kokoh. Paling tidak seperti rumah kang Naryo. Memang diantara anak-anak Mak, hanya kang Naryo yang bernasib mujur dan sukses. Hidup di kota dan menjadi pegawai bank. Punya istri cantik dan anak yang sehat pula.


Selama ini kepada kang Naryolah Mak selalu meminta bantuan. Apalagi kalau Mak sudah tidak punya uang atau sedang jatuh tempo bayar hutang ke bank plecit. Sedang waktu panen masih lama dan sisa panen sudah habis terjual untuk biaya tanam dan makan sehari-hari, juga bayar hutang sana-sini. Seperti saat ini. Mulanya kang Naryo tak berkeberatan. Namun, lama-kelamaan ada nada kurang menyenangkan dari kang Naryo. Walaupun Mak tak memintanya terus-menerus, hanya tempo-tempo tertentu saja saat Mak sedang terdesak, itupun bisa di hitung dengan jari. Mak memaklumi sikap kang Naryo. Dia sudah berkeluarga dan hidup di kota. Tentu kebutuhannya banyak. Mak tak mau merepotkan. Mak kini jarang meminta bantuannya lagi. Dan aku, aku semakin malu kepada Mak. Aku merasa sungguh tak berguna.


Kamu tak perlu berkecil hati, Nang” kata Mak suatu hari padaku, “Mak yakin kelak kau pasti menjadi orang yang sukses. Bahkan lebih sukses dari kangmasmu semua”


Aku paling senang kalau Mak sudah berkata seperti ini. Di tengah keterpurukan kami, Mak tak lelahnya memberi semangat dan mendoakanku.


Almarhum bapakmu berpesan kepada Mak agar kita terus berusaha dan tak lupa berdoa. Kita memang miskin, tapi jangan sampai miskin iman dan miskin hati.”


Aku hanya bisa diam mendengar nasehat Mak. “Lanang pasti menjadi orang sukses, Mak. Besok kalau Lanang sudah sukses, Mak ikut Lanang saja. Lanang yang akan merawat Mak. Kalau perlu Lanang tidak akan menikah. Lanang hanya ingin membahagiakan Mak. Lanang tidak keberatan.”


Husshh...jangan bilang seperti itu! Nanti kau bisa termakan omonganmu sendiri. Mak ingin anak-anak Mak berkeluarga, beranak-pinak agar lengkap kebahagiaan Mak.”


Tapi Lanang takut kelak seperti kang Naryo. Tak peduli sama penderitaan Mak. Membiarkan Mak terlunta-lunta. Tak pernah tahu kalau kita di sini kesusahan!”


Sifat orang itu berbeda-beda. Mak yakin kelak kau tidak akan seperti kangmasmu. Semua kembali ke dirimu sendiri. Kalaupun besok tak ada yang peduli sama Mak, Mak harus ikhlas menerimanya” Mak menunduk. Pundaknya bergoyah. Kudengar isaknya. Mak menangis.


Jangan bilang seperti itu, Mak! Terkutuklah semua anak Mak kalau sampai menelantarkan Mak!” tanpa kusadari dengan perlahan air mataku menetes.

***

Rasanya cukup sudah aku bersabar dengan keadaan. Kesabaran kami ternyata tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Sebaliknya, hidup terasa semakin susah saja. Aku ingin hidup kami lebih baik. Aku tak mau lagi melihat Mak sedih. Aku ingin merantau. Aku ingin menjadi TKI. Tak butuh waktu yang lama buatku untuk meyakinkan Mak. Hingga Mak akhirnya mengijinkan aku untuk menjual sebagian sawah yang terletak di sebelah selatan dukuh kami. Lagi pula sawah ini letaknya agak menjorok ke tengah. Tak sayang seandainya dijual buat modal kerja.


Mak doakan semoga kau cepat berangkat. Kelak bila kau berhasil, jangan lupa kau bantu kangmasmu Gono dan Jiwo yang masih kesusahan. Kau kasih mereka modal usaha. Biar sukses seperti Naryo”


Tidak, Mak. Lanang kerja untuk Mak saja. Itu yang paling utama. Bayar hutang-hutang kita, membuat rumah gedung yang lebih bagus dari punyanya kang Naryo, beli sawah, beli motor, dan ongkos naik haji Mak”


Mak menatapku nanar. Kulihat sejenak. Ada rasa haru dan bangga yang terpancar di matanya. Mak hanya tersenyum sambil berlalu. Ada rasa senang yang tak bisa kuungkap ketika melihat Mak tersenyum bangga padaku. Kuperoleh rasa percaya diriku kembali. Aku semakin yakin, aku mampu membahagiakan Mak.


Tiap malam aku selalu berangan tentang segala mimpi-mimpi buat Mak. Kerja keras, gaji besar, tiap bulan bisa berkirim uang ke Mak, membuat rumah yang berlantai keramik, Mak tak perlu lagi berhutang untuk biaya tanam, Mak bisa belanja setiap hari ke pasar, dan yang utama aku ingin menemani Mak naik haji. Mak pasti senang. Tak ada lagi kesedihan.


Namun, terpaksa aku harus mengubur semua mimpi itu ketika aku tahu ternyata aku tertipu calo. Semua modal ludes tak bersisa. Aku tak jadi berangkat. Anganku untuk menjadi TKI gagal. Semua mimpiku untuk Mak hilang. Aku menjadi bulan-bulanan saudaraku.


Tolol! Makanya jangan gegabah!”


Kok bisa ketipu? Dasar goblok”


Coba dari dulu kau dengarkan aku. Tak akan begini jadinya”


Sawah Mak harus kau ganti. Kau harus tanggung jawab!”


Cengoh...!“


Aku tak kuasa mendengar olok-olokan itu. Mereka yang dulu berharap banyak dariku, sudah berani melontarkan permintaannya ini-itu bahkan sebelum aku berangkat, bermuka manis ketika mendengar aku akan kerja ke luar negeri, kini mencampakkan kegagalanku. Terus saja menyalahkan. Aku hanya diam mendengar dan melihat perlakuan mereka.


Kepada Mak aku tak bisa berbuat apa-apa. Berkali-kali aku minta maaf kepada Mak. Mak hanya terdiam tenang, kadang tersenyum, dan menyuruhku sabar. “Barangkali ini belum rejekimu, Nang”. Aku tahu Mak sangat sedih. Aku bisa lihat dari sorot matanya. Dari raut muka yang dibuat seolah-olah tegar. Mak pasti kecewa.

***

Mak tertidur. Sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah yang tak kunjung ada jalan keluar dia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku tidak bisa tenang. Apalagi tadi tukang tagih datang. Hutang Mak sudah menunggak. Aku bingung harus mencari uang kemana. Meminjam ke kang Naryo, sudah pasti tak akan dikasih. Satu-satunya jalan adalah menjual sepeda onthel warisan bapak.


Akhirnya hutang terbayar walaupun harus mencicil. Mak pasti marah aku menjual sepeda onthel warisan itu. Tapi apa mau dikata, tak ada lagi sisa uang. Dan benar kiranya firasatku, Mak seharian diam tanpa mengajakku bicara. Aku merasa semakin berdosa.


Tiba-tiba saja aku teringat bapak. Dulu kehidupan kami lebih baik dari sekarang. Rasanya rejeki selalu ajeg. Barangkali juga karena aku masih remaja waktu itu. Jadi tak pernah kutahu bagaimana kerja keras yang dilakukan bapak. Yang aku tahu, aku bisa terus sekolah, bahkan sampai tamat SMU. Kalau bapak sedang tak punya uang, kami tetap bisa makan enak walaupun hanya nasi ampok(nasi jagung) dengan urap-urap daun pepaya yang pedas dan ikan asin. Sungguh enak luar biasa.


Mengingat bapak adalah mengingat semangat dan kerja keras yang tak pernah lelah. Mengingat bapak membuatku merasa tertampar: Aku harus bangun! Rasanya percuma saja kalau aku terus-menerus meratapi keadaan kami. Sampai akhirnya aku putuskan untuk pergi dari kampung ini. Meninggalkan Mak seorang diri. Aku berpamitan dengan Mak dan meminta doa restunya. Mak hanya bisa menangis melihat kepergianku.


"Lanang pergi, Mak. Assalamu’alaikum...”


Wa’alaikumussalam.. kamu hati-hati, Nang. Jaga diri baik-baik.” Mak masih terisak.


Itulah terakhir kali aku melihat Mak menangis. Aku pergi untuk sejemput mimpi yang kelak kuberikan kepada Mak. Mimpi-mimpi lamaku yang pernah hancur terporak-poranda. Memungut lagi satu demi satu dan merangkainya kembali dengan usaha, doa, dan kerja. Sekali lagi aku ingin membahagiakan Mak.


Dan sekarang, kali kedua kuberanikan diri untuk menatap mata Mak dalam-dalam. Hal yang telah lama tak pernah kulakukan semenjak pergi meninggalkan Mak sendiri. Katup matanya semakin cekung Sungguh aku merasa tanpa daya melihatnya. Sampai hari ini aku belum sanggup membuat Mak bahagia. Bahkan, ketika aku sudah menjadi orang yang berhasil. Lebih sukses dari kangmasku semua. Mak tak sempat menikmati mimpi yang telah lama kurangkai untuknya. Maafkan aku Mak. Aku menangis dalam hati.


Mak terus saja terbaring di tempat tidurnya. Belum ada tanda-tanda membaik. Aku masih saja duduk di samping Mak. Kupanjat segala doa-doa untuk keselamatan Mak. Hingga akhirnya Mak tersadar. Katup matanya yang cekung sedikit terbuka. Aku sungguh senang melihat Mak siuman. Mak tersenyum melihatku.


Nang,” suaranya lirih kudengar, “kapan kamu datang?”


Kemaren Mak” jawabku riang. “Lanang sudah jadi orang sukses, Mak. Mak cepat sembuh biar nanti Mak bisa tinggal dengan Lanang. Lanang sudah punya rumah gedung buat tempat tinggal kita. Lebih bagus dari kang Naryo.” Mak hanya tersenyum sembari mengelus pipiku. “Kau bantu kangmasmu Gono dan Jiwo. Kau kasih mereka modal usaha. Biar sukses seperti kamu.”


Mak memang selamanya Mak. Ia lebih perhatian kepada anak-anaknya ketimbang dirinya sendiri, bahkan pada saat-saat seperti ini. Ah, Mak...


Mak senang bisa melihatmu lagi” suaranya masih saja lirih. “Mak lelah, Mak ingin istirahat”


Aku tatap sekali lagi katup mata Mak yang semakin cekung. Kerutan di wajahnya yang begitu tegas membuatku selalu teringat betapa Mak sungguh tegar dan sabar. Aku bangga kepada Mak. Dan sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah atau kadangkala lelah ia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan dan keletihan. Namun, kali ini lain, mak tertidur untuk selamanya.


Kampung Jambu, Agustus 2008


Seorang Penipu yang Menipu dan Orang-Orang Tertipu

Cerpen Ahmad Ikhwan Susilo


Tolonglah saya. Saya sangat butuh pertolongan sudara. Hanya sudara yang mampu menolong saya. Malam ini saya tunggu di kedai kopi yang biasa sudara satroni tiap malam. Pesan singkat yang baru saja masuk ke handphone-ku tadi sedikit mengusik. Tak jelas siapa nama pengirimnya dan dari mana dia tahu nomorku. Bisa dipastikan orang-orang di kedai yang memberinya. Namun, kenapa dia sangat butuh pertolonganku? Kenapa dia yakin hanya aku yang mampu menolongnya? Ah, ada apa lagi ini...


Hampir tiap malam selalu kuluangkan waktuku untuk minum kopi di kedai ini. Kedai yang letaknya di pojok perempatan pasar kota. Selain rasa kopinya yang pas di lidahku, ada hal lain yang membuatku terpikat dengan kedai ini. Tak lain adalah cerita para pengunjung kedai. Orang-orang yang datang selalu membawa cerita mereka masing-masing. Tak heran kalau kedai ini tidak pernah kehabisan cerita saban malamnya. Mereka selalu bercerita dengan bebasnya. Membuat mereka yang sebelumnya tidak mengenal atau dikenal saling berkenal satu sama lain. Akhirnya, kedai ini menjadi tempat curahan cerita-cerita mereka melepaskan segala masygul, gelak tawa, dan beban-beban.


Anehnya lagi para pengunjung itu selalu senang tiap kali aku datang ke kedai ini. Bahkan mereka rasa kurang khidmat cerita mereka jika aku tak datang mendengarnya. Memang, tiap kali selesai mendengar cerita mereka, aku selalu menyempatkan untuk menuliskannya. Biasanya cerita-cerita itu aku kirimkan ke koran-koran lokal. Mereka senang bukan main bila salah satu cerita dari mereka yang aku tulis muncul di koran tiap minggu. Jangan heran kalau dinding-dinding kedai ini banyak tertempel potongan koran yang berisi cerita para pengunjung kedai. Itu sebabnya kehadiranku selalu dinantikan. Mereka yang berharap cerita-ceritanya aku tulis.


Malam ini aku ke kedai lebih awal. Masih terlihat lengang. Hanya ada beberapa orang. Aku menyapa mereka. Di pojok kedai itu seseorang mengang kat tangannya memberi isyarat. Orang itu berbadan besar berambut panjang dengan pakaiannya serba hitam. Tampak lusuh.


Sayalah yang mengirim pesan ke sudara”. Aku hanya tersenyum dan menjabat tangannya.”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku. “Tolong tulis dan sebarkan cerita saya”. Aku sempat tertegun, namun tak kuasa untuk menolaknya, “Jadi untuk itu anda mengirim pesan ke saya?” ia mengangguk pelan. Lantas lelaki yang tak jelas kutahu asal-usulnya itu mulai bercerita. Cerita tentang tipu-muslihat. Seorang penipu yang menipu dan orang-orang tertipu...


Entah siapa dan dari mana asalnya perempuan tua itu tak ada yang tahu pasti. Orang sekedar tahu namanya Lastri Ayu Diahningrum. Ia baru saja menikah. Dan ia cukup beruntung bersuami masih muda. Umur mereka selisih delapan belas tahun. Apa mau dikata kalau uang sudah bicara? Sampai akhirnya banyak orang yang menganggap perempuan tua itu bak dewi penolong yang datang dengan segudang rahmat tuhan. Ia baru saja pulang dari luar negeri. Membawa kabar yang tentunya sangat membahagiakan. Ia pulang untuk mencari rekan yang mau ikut bekerja di luar negeri. Gayung pun mulai bersambut.


***


Sebenarnya keinginan utamanya cuma satu, ia ingin membuat rumah sendiri. Sejak pernikahannya dengan Tri selama ini pula ia masih tinggal bersama orang tua dan menantunya. Perasaan malu sebagai lelaki itulah yang mendorong niatnya untuk menjadi TKI. Pikirnya, Indonesia sudah tidak mampu lagi memberikan harapan yang pasti tentang hidup. Pekerjaan sangat sulit didapat. Ingin membuka usahapun harus mempunyai modal yang sangat besar. Sedang harta yang dipunya tak seberapa nilainya.


Memang, begitu banyak koperasi-koperasi yang memberi kredit usaha kepada mereka yang ingin mencari modal usaha dengan beberapa syarat yang telah ditentukan, tetapi setelah dipikir-pikir ia merasa tidak mampu dengan bunga yang harus dibayar. Lagi pula belum tentu penghasilannya tiap bulan mampu mencukupi untuk membayar angsuran kreditnya. Menjadi petani, laba pun tak tentu, selalu dikalahkan oleh harga panen yang turun dan biaya produksi yang tinggi. Sangat tidak seimbang dengan kebutuhan sehari-hari.


Bagaimana urusan paspornya, mas?” tanya Tri sambil menyiapkan makan siang suaminya yang baru pulang dari kantor imigrasi.


Alhamdulillah lancar, Tri” jawab Gito dengan raut ceria. “Ini tadi cuma tinggal tanda tangan. Besok sudah bisa diambil.”

Sungguh girang hati Tri mendengar kabar itu dari suaminya. Dan sekali lagi angannya mulai melambung tanpa arah. Mencoba menatap masa depan yang akan datang dengan gemilang. Terbayang beberapa rencana-rencana yang sudah ia susun sebelumnya. Membangun rumah gedung, berlantai keramik, dapur yang tampak menawan, perlengkapan rumah tangga yang serba komplit, tempat tidur springbed yang empuk, tak lupa sepetak sawah dan beberapa ekor sapi brahman.


Kamu kenapa senyum-senyum, Tri? Mimpi apa lagi kamu?”


Ah, sampeyan ini, tidak bisa lihat istri senang. Bayangkan kalau sampeyan sudah berangkat, kerja tiga tahun di sana? Hidup kita bisa lebih baik, mas.” Tri masih saja girang.


Iya, iya, belum berangkat saja kamu sudah mesam-mesem, apalagi kalau aku sudah berangkat? Tapi, Tri...” tiba-tiba Gito tersendat, ada nada khawatir dalam benaknya,”kalau aku gak jadi berangkat gimana?”


Huussh...sampeyan jangan ngomong seperti itu! Kemaren aku sudah tanya orang pintar, dia punya firasat katanya sampeyan pasti berangkat. Dia ngasih syarat ini untuk sampeyan minum. Katanya biar lancar usaha kita, mas!” Gito pun meneguknya sampai habis tak bersisa. Ia semakin jumawa.


***


Perkenalan Lastri dengan Gun cukup singkat. Gun mengenal Lastri dari seorang teman perempuannya yang kini sudah bekerja di Hongkong. Alangkah senang hati Gun mendengar tawaran Lastri. Bekerja keluar negeri menjadi TKI.


Kau ajak pula sanak famili atau teman dekatmu, Gun. Itung-itung kita beramal. Ini kesempatan bagus lho. Lagi pula saya masih butuh banyak rekan. Kemaren banyak yang pulang karena kontrak kerja mereka habis dan tidak diperpanjang lagi.”


Iya, bu. Saya pasti tawarkan ini ke saudara dan teman-teman saya. mereka pasti banyak yang minat” Lastri pun tersenyum pulas. Gun tidak tahu apakah itu senyum ketulusan atau senyum penuh kelicikan. Gun terlalu sibuk berangan.


Wes to, nanti aku kasih persenan dari tiap orang yang kamu ajak, Gun” Lastri semakin membuai. Gun bertambah mabuk.


***


Di sebuah warung kopi dua orang pemuda sedang duduk berbincang sambil menikmati dua cangkir kopi kental pahit dan beberapa goreng pisang. Pemuda yang satu berbadan besar sedikit gemuk, dan yang satu lagi sedang saja. Mereka sama-sama mempunyai mimpi besar. Beratnya beban hidup yang harus dihada pi mengantar mereka pada pilihan untuk merantu ke negeri seberang. Banyak cerita keberuntungan dari mulut orang-orang kampung yang sanak sudaranya merantau di sana. Dari pada hidup penuh ketidakpastian di kampung sendiri kiranya ini menjadi pilihan yang terbaik.


Coba kau bayangkan, dengan gaji 13 juta per bulan atau tarohlah minim 9 juta, kita bisa buka usaha apa saja. Kita bisa beli apa yang kita mau. Itu baru sebulan. Nah, kalau kita kerja 3 tahun? Bisa kau hitung sendiri.” Pemuda berbadan besar sedikit gemuk itu tampak bersemangat dan meyakinkan.


Aku kira memang seperti itu. Toh, kalau kita bertahan di sini, seandainya kita dapat kerja pun gajinya tidak sebanding dengan rekoso yang kita lakukan.”


Ya, begitulah” ia mengangguk pelan


Tapi, pernah tidak kamu merasa, kadang apa yang kita lihat nyata hari ini ternyata hanya sebuah dusta belaka?”


Optimis saja. Kemaren aku barusan dari Kyai. Dia bilang, padang tak ada halangan. Artinya kita pasti berangkat. Kemaren mas Gito, mbak War, mas Bambang, Wito, Lukman juga tanya sama orang pintar. Jawabannya sama: kita berangkat! Walaupun...”


Apa?”


Ada beberapa yang bilang kita gagal berangkat. Ah,...”


***


Mas Gun melarikan diri, sudah seminggu ini. Bagaimana sekarang?”

Mendengar berita itu seketika raut muka Gito menjadi pasi. Ia hanya terdiam sambil tersenyum kecut. Pikirnya melayang tanpa arah, berusaha tetap tenang dan menguasai emosi dalam diri. Mencoba menganalisa apa gerangan yang baru didengarnya itu memang benar adanya. Ia tidak percaya Gun akan berbuat setega itu. Ini tidak mungkin.


Aku sudah mengenalnya sejak dulu. Aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa sekeji ini. Seandainya itu memang benar, ia tidak hanya menipuku dan semua orang, tetapi telah merusak persaudaraan ini. Bajingan tengik! gerutu Gito dalam hati.

Ia tetap terdiam. Berpikir tenang.


Bagaimana dengan Lastri?”


Sama. Tak ada yang tahu rimbanya...”


Malam semakin beranjak dan satu persatu orang-orang mulai datang ke kedai ini. Sepertinya malam ini akan terasa panjang. Aku sudah bersiap diri untuk mendengar cerita-cerita mereka.


Begitulah cerita saya sudara”, lelaki di hadapanku itu tampak mau mengakhiri ceritanya, “tolong tulis dan sebarkan cerita saya tadi agar kelak tidak banyak orang yang bernasib serupa. Terima kasih banyak sebelumnya”. Lelaki itu segera menghabiskan sisa kopi di cangkir yang sudah dingin. Sambil menyulut rokok, ia berdiri bergegas pergi meninggalkanku.“Oiya, saya belum tahu nama anda!” seruku.


Nama saya...,Gun” lelaki itu tersenyum ke arahku sambil terus pergi berlalu.



Pare, 18 Agustus 2008


16 August 2008

Hari Bahagia Buat Mak Mar

Sudah tiga puluh lima tahun lebih rumah itu masih terlihat sama. Sebuah rumah yang sangat sederhana yang – bisa dikatakan mirip gubuk reot – kokohnya luar biasa. Padahal pondasi rumah itu hanya tersusun dari batu bata berperekat tanah liat bukan semen. Dinding rumah sama sekali tidak bertembok seperti rumah-rumah gedung milik tetangga di samping kiri-kanan. Melainkan terbuat dari gedhek. Tak sedikit pun terlihat adanya rombakan total dari rumah itu, hanya saja bagian-bagian kecil yang selalu dibenahi, seperti genteng yang telah aus dimakan cuaca, dan jika musim penghujan tiba seisi rumah disibukkan mencari bak atau ember penadah air hujan karena genteng yang bocor di sana-sini. Bukannya tidak mau atau tidak ada niat untuk merombaknya, tetapi apa daya jika uang tidak ada. Bisa makan sehari-hari dan menyekolahkan anak-anaknya saja sudah bersyukur. Cuma setahun sekali diwaktu lebaran tiba rumah itu tampak cerah berbinar dan tersenyum ramah pada siapa saja yang datang bersilaturrahmi. Sapuan putih kapur gamping membuat rumah itu tampak muda lagi.


Wanita itu akrab disapa Mak Mar dan suaminya yang renta bernama Pak Kasim. Mereka bukan petani, bukan pula buruh tani. Pekerjaannya cuma membuat emping dan pulii. Dari situlah ia mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka tidak punya sawah untuk digarap. Hanya kebun warisan belakang rumah yang tidak begitu luas, tetapi cukup bermanfaat untuk menambah penghasilan, yang ditanami pohon pisang, ketela, bentol, melinjo, pohon kelapa dan beberapa pepohonan penghasil kayu. Selain itu, mereka juga mempunyai ternak yang dipelihara. Dulu ternak yang dimiliki tidak sekedar ayam dan kambing, melainkan juga sapi. Tetapi, semua sapi-sapi itu telah habis terjual untuk biaya kelahiran anaknya yang ke enam dan ke tujuh. Sungguh betapa bahagianya mak Mar waktu itu ketika ia melahirkan anak terakhirnya dengan selamat, dan segera sang suami menggendong si jabang bayi yang baru lahir itu, lalu mengumandangkan adzan di sampingnya. Kini, ternak yang tersisa hanya lah beberapa ekor kambing dan ayam kampung serta burung dara yang masih dipelihara.


Di kebun belakang rumah itulah, di bawah pohon wadang yang rimbun, ia selalu tersenyum melihat anaknya bermain dengan penuh keceriaan. Tenggelam dalam riuh tawa jenaka yang mereka mengerti sendiri sambil membuat bola-bola kecil dari kulit ari daun wadang yang masih muda. Seperti yang ia ajarkan pada mereka. Hanya hiburan seperti itu yang bisa ia berikan sewaktu mereka masih kecil dan mengajari mereka beberapa permainan tradisional warisan turun-temurun dari nenek moyang dan orang tuanya dulu ketika memomongnya. Dengan jemari kecilnya yang lentik anaknya tangkas mengelupas dan memilin kulit ari daun wadang tersebut. Membuatnya bulat menjadi bola. Butuh ketelatenan dan kesabaran yang penuh untuk menghasilkan bola-bola kulit ari daun yang besar.


Di setiap sore menjelang senja dimana langit berwarna jingga cerah di ufuk barat dan sebentar lagi maghrib tiba, ia selalu mengajari anak-anaknya bersenandung kidung pujian sholawat dan salam pada sang Rasul serta doa-doa pendek yang diucapkan pada waktu sholat. Kelak ia berharap semua anaknya akan menjadi seorang anak yang saleh dan selalu berbakti kepada orang tua. Sebuah doa dan harapan yang umum terucap oleh mereka para orang tua manapun kepada sang anak. Itulah sepenggal kenangan tentang masa kecil anak-anaknya yang tetap teringat dan tersimpan rapi dibalik usia yang semakin tua dilahap waktu.


Ketiga anak lelakinya yang dewasa sudah lama pergi merantau ke Sumatra. Mereka telah berkeluarga dan punya anak. Hampir dua tahun ini mereka tidak berkirim kabar lewat surat seperti dulu. Tidak juga mengirim uang lewat wesel tiap enam bulan sekali. Mungkin mereka kebutuhannya juga banyak, batin mak Mar dalam hati, tetapi ia cukup bahagia dan bersyukur anaknya sudah jadi orang dan hidup berkecukupan. Semoga saja lebaran tahun ini mereka bisa pulang atau sekedar berkirim surat. Rinduku sudah tak tertahan, harap mak Mar dalam lamunannya.


Dalam hidup yang sederhana – bahkan bisa dibilang serba kekurangan itu – ia justru merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Terbebas dari keinginan-keinginan materi duniawi yang menimbulkan penderitaan hati. Damai dan tenteram. Ia rasakan karunia sang Khalik yang begitu besar. Rahmat yang terus-menerus melimpah. Membuatnya selalu bersujud syukur atas segala yang diberikan-Nya.


Namun, akhir-akhir ini batinnya merasa tidak tenang. Selalu gundah menggulana. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan mengganggu pikirannya. Membuatnya tampak menggelisah penuh keresahan. Benar-benar pemandangan yang tidak seperti biasa. Pak Kasim yang melihat kondisi ini bertanya penuh heran dalam hati, ada apa kiranya yang sedang dialami oleh istrinya itu. Selama mereka menikah tak pernah ia terlihat seperti itu sebelumnya. Kalau pun ada masalah pasti ia menceritakan kepadaku. Dan alhamdulillah selalu saja ada jalan keluar walaupun tidak semua masalah bisa langsung tuntas teratasi.


Tapi...tapi kali ini benar-benar lain. Aku sungguh tak mengerti. Tak sedikitpun dia mau bilang. Ada apa ini? Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah gara-gara hutang yang belum terbayar sama si Kardi keponakannya itu? Ah, aku kira tidak. Utang itu tak seberapa dan si Kardi pun masih longgar. Apa karena surat peringatan dari sekolah si Abdul yang minta segera membayar uang SPP yang sudah nunggak empat bulan ini? Mmm...bukan, itu tidak mungkin karena sudah dicicil dua bulan dan aku yakin pihak sekolah pasti memberi toleransi. Lantas apa kalau begitu? Pak Kasim terus memutar otak untuk mencari sebab kenapa istrinya seperti itu. Atau jangan-jangan...


Tentang lamaran itu!


Ya, pasti tentang lamaran dari Pak Kaji tempo lalu. Antara menerima atau menolak. Kalau menerima berarti siap pula mendengar rasan-rasan tetangga yang beraneka ragam. Kalaupun menolak, apa daya mereka berdua telah terikat cinta. Ia sepenuhnya sadar kalau anaknya tak pantas menikah dengan anak pak Kaji. Perbedaan kelas itulah alasan utamanya. Sebagaimana dulu banyak ia dengar gunjingan saudara-saudara pak Kaji yang menghasut supaya anaknya, si Wahyu, jangan dekat-dekat atau menjalin asmara dengan Ning anak gadis si Kasim, alih-alih mereka menikah. Dengan berbagai dalih, termasuk menjual dalih agama, saudara pak Kaji itu gencar menghasutnya supaya lamaran itu tidak terjadi.


Kalau sampai anakmu kelak menikah dengan anak gadis si Kasim, mau makan apa mereka?” ujar kakak perempuan pak Kaji sambil mencemooh berharap lamaran itu bakal dibatalkan.


Memang, seperti yang tertulis dalam hadist,” lanjutnya, “Jika seorang lelaki telah dirasa mampu sekiranya ia segera menikah, tetapi jangan asal. Semua ada pertimbangan. Ia harus cantik, tidak sekadar paras, tapi juga hati. Begitu juga dengan agamanya. Dan yang terakhir, cukup ekonominya” sambil menekan pada kata-kata terakhir.


Ah, apa benar hal ini yang membuatnya risau? Pak Kasim masih terus saja berta nya dalam hati. Berusaha menduga-duga.


Mak, apa yang sedang kamu pikir?” tanya pak Kasim suatu malam ketika mereka membuat puli. “Akhir-akhir ini selain asmamu kambuh, kamu juga kelihatan murung. Ada apa?”


Murung gimana to, pak?” balas mak Mar sambil mencetak puli di meja.


Ya, murung. Keliatannya ada yang kamu pikir. Coba cerita, jangan ditutup-tutupi.”


Tentang lamaran pak Kaji kemaren.” Jawab mak Mar tenang. Ternyata memang benar tebakanku, gumam pak Kasim. Selama ini ia dibuat resah gara-gara lamaran itu.


Tidak salah kalau begitu. Aku tahu kamu pasti memikirkan lamaran itu. Ya, memang sepantasnya kalau kita menolak lamaran pak Kaji. Sebab kita tahu kondisi kita seperti apa dan anak kita memang tidak pantas kalau harus menikah dengan anak pak Kaji. Kamu juga tahu bagaimana saudara-saudara pak Kaji itu ngrasani kita. Besok kalau pak Kaji ke sini, kita ngomong baik-baik dan memutuskan untuk menolak lamaran itu. Mungkin ini yang terbaik daripada nantinya terus-terusan mendengar gunjingan mereka. Malah menambah dosa. Sekarang kamu tidak usah mikir masalah itu. Mendingan kamu jaga kesehatanmu. Kurangi beban pikiran. Pasti asmamu kambuh gara-gara memikirkan hal ini.” ungkap pak Kasim penuh perhatian.


Sampeyan ini ngomong apa?!” tanya mak Mar penuh heran, “Kalau kita menolak lamaran itu justru semakin menambah beban pikiranku.” Pak Kasim terdiam sambil melongo. Mencoba menelaah ucapan istrinya yang sungguh tak disangka.


Sampeyan jangan memperumit masalah” lanjut sang istri


Lho, memperumit gimana?”


Ya, seandainya menolak lamaran itu? Aku kira sebaiknya kita terima lamaran pak Kaji. Jangan cuma gara-gara masalah kita ini miskin, terus kita merasa anak kita tidak pantas menikah dengan anak pak Kaji atau gara-gara tidak kuat mendengar gunjingan saudara-saudara pak Kaji atau tetangga sekitar, lantas kita menolak lamaran itu. Biarkan saja mereka mau ngomong apa. Kalau kita tolak, sama saja kita melawan kodrat.”


Pak kasim masih terdiam memahami maksud istrinya. “Kita harus bijak, pak, me nyikapi hal ini. Mereka itu saling mencintai. Kalau kita memisahkan mereka sama saja kita ini pembunuh yang tak punya hati nurani. Yang aku lihat dari nak Wahyu itu bukan karena dia putra pak Kaji atau anak orang berada, tapi karena dia berilmu dan mandiri. Taat agamanya, baik budi pekertinya, dan bekerja keras. Jangan melihat seseorang dari status atau kekayaan, tapi kita lihat dia sebagai manusia utuh. Rejeki, itu gusti Allah yang ngatur. Asal kita tetap berusaha dan berdoa.”


Udara di luar terasa dingin walau malam belum beranjak larut. Mereka berdua masih sibuk membuat puli. Si Siti, Abdul, dan Dewi belum pulang dari ngaji. Mungkin mereka tidur di pondok seperti biasa dan pulang sehabis subuh.


Rumah ini semakin sempit ya, pak...dan kita belum mampu merombaknya,” sambung mak Mar dengan suara pelan sambil terisak, “Sudah lama aku bermimpi rumah ini dibongkar. Diganti bagian-bagiannya yang telah lapuk dan dibuat agak lebar. Ditambah satu atau dua kamar lagi. Inilah keinginanku dari dulu. Biar nanti kalau kakaknya Ning pulang dari Sumatra dengan istrinya bisa nginap di sini dan menyaksikan akad nikah si Ning. Sebenarnya aku ingin besok ijab kabulnya di rumah kita saja jangan di rumah pak Kaji karena kita kan dari pihak mempelai wanita. Tapi, aku rasa itu tidak mungkin, rumah kita terlalu sempit. Lagi pula, pak Kaji kemaren minta kalau acara pernikahan ini berlangsung di rumahnya saja.”


Kini, pak Kasim tahu apa yang menjadi pikiran istrinya selama ini. Dia pun hanya bisa terdiam. Menangis dalam hati karena tak mampu mewujudkan mimpi istrinya. Dia tak berdaya untuk hal itu.


Mak Mar masih saja tenggelam dalam pikirannya. Hatinya bercampur aduk antara sedih dan bahagia. Namun, semua itu tetap ia syukuri. Bulan depan pernikahan anaknya berlangsung.



Rajab, 1428H


i Kerupuk yang terbuat dari beras atau nasi sisa yang menjadi karak.